Musim di atas Angin, Cerita Pendek oleh Rendy Ipien

1 comments
Sumber Ilustrasi: Liputan6.com


Musim di atas Angin

Tarakan 2004, kepala-kepala anak itu terus menengadah ke atas. Rupanya mereka sedang bermain di langit.

Bahkan menatap dengan asyik. Menjelang senja, hampir lima jam kepala anak-anak itu tak luput dari mainannya yang sedang terbang tinggi. Sesekali mereka melihat ke bawah. Namun hanya sekejap. Selanjutnya melihat ke atas lagi, agak lama guna memastikan mainanya dalam keadaan aman. Lalu menatap ke bawah lagi. Tepat pada sebuah kaleng berisi gulungan benang milik mereka masing-masing. Memastikan benang tidak kusut. Aman untuk ditarik dan diulur.

Sesekali keasyikan itu diisi dengan obrolan-obrolan. Meski tak memandang satu sama lain.

“Hati-hati kalian dengan Ular Sanca Hitam. Bisa mampus pendekarmu dililitnya.”

“Mana mungkin. Pendekar Buta punya banyak jurus. Malah, tongkatnya bisa memukul kepala ularmu biar jatuh.”

“Hei kamu. Mengapa Si Gurita agak menjauh. Takutkah pada Si Rajawali?”

“Ah tidak. Si Gurita justru begitu karena mau menyerang musuhnya.”

Terdengar ledakan tawa di atas bukit yang ditumbuhi rumput liar dan sedikit menutupi dinding-dinding benteng tua berukuran kecil milik bangsa Hindia-Belanda. Di situlah para anak-anak itu menghabiskan waktu setelah pulang sekolah untuk bermain layang-layang. Itulah mainan mereka karena memang inilah musimnya. Musim yang jarang hujan dan keseringan cerah. Musim yang datang tanpa harus ada pengumuman resmi, hanya melihat layangan melayang terbang tinggi secepat itu pula orang-orang mulai mengikuti.

Maka langit-langit yang biru dan cerah itu dimeriahkan oleh layang-layang. Sekitar langit memberi nuansa warna-warni. Merah, kuning, hijau, hitam, biru, ungu, abu-abu dan putih. Semua di udara. Semua di langit. Ada juga yang bergambar. Pendek kata bercap. Ada binatang, ada pula manusia, dewa maupun simbol lainnya. Mereka pun memberinya nama. Ular Sanca Hitam, Si Gurita, Si Rajawali, Gundala, Pendekar Goa Hantu, Ikan Mayung, Si Tuyul, Krokodail. Semuanya di atas angin. Sebentar-sebentar naik, meninggi. Sebentar-sebentar turun, merendah. Layang-layang itu tampak dalam ketinggian yang berbeda beda.

Sementara di rerumputan, dua anak sama-sama tersenyum. Salah satu memegang layangan. Satunya lagi memegang kaleng bergulungkan benang. Mereka berjalan-jalan hingga angin bertiup berhembus agak kencang dan Langkah mereka terhenti. Lantas, direntangkan layangan yang telah diikat benang itu sejauh kira-kira lima belas meter. Kemudian dilepas.

“Terbanglah tinggi.” Kata anak itu ketika layangannya terangkat oleh angin.

       Anak-anak disekitarnya menyaksikan di langit-langit, bahwa baru saja ada layangan naik. Mereka menoleh sebentar kepada Si Empunya. Ada pemain baru. Suara mereka terdengar pelan.

“Layangan apakah itu?”

“Ini namanya layangan Cap Perdamaian.”

“Cap perdamaian.”

“Bilang saja Perdamaian.”

“Oh. Saya baru lihat.”

     “Mau perdamaian, Ikan Mayung, Krokodile, Gundala, Ular Sanca Hitam, itu tidak penting.” Kata anak-anak yang berpakaian esempe.

“Lalu, apa?”

“Kekuatan!”

“Ya. Benar. Terbang tinggi sendiri, tidak seru.

“Makanya harus bertarung.”

“Intinya sontengan.”

Pembicaraan langsung berhenti tatkala layangan yang bernama Perdamaian itu menukik tajam ke layangan lain. Kemudian menyerong ke kanan. Kebetulan layangan yang satu tak jelas apa gambarnya karena tampak jauh dari pandangan. Kini dua layangan itu menyilang. Rupanya mereka sedang bertarung. Tidak lama, benang terputus. Layangan itu mengendur dan jatuh melayang-layang. Huuu. Seru anak-anak disekitarnya. Pemenangnya adalah layangan Perdamaian.

“Hebat.”

“Ini baru namanya kekuatan.”

     Masih dalam suasana memuji itulah aksi layangan Perdamaian belum usai. Korban berikutnya bermunculan. Dua sekaligus. Yakni layangan cap Pinokio dan Kura-kura Ninja.

“Pinokio tumbang.”

“Kura-kura Ninja gugur.”

Anak-anak itu tercengang melihat Si Empu layangan Perdamaian yang merupakan anak seumuran seperti mereka, pendatang baru namun sudah memakan korban. Pelan-pelan para pemain di atas bukit itu mengendalikan arah layangannya, mereka mewaspadai. Tetapi ada juga yang nekat ingin berduel. Kebetulan Pendekar Goa Hantu. Bergerak berputar putar lalu menyerong dan mendekat ke Perdamaian. Belum ada lima menit, Pendekar Goa Hantu jatuh melambai-lambai. Si Empu, yakni pemilik Pendekar Goa hantu langsung tertunduk.

Cerita belum usai, sebagian anak-anak mengejar Pendekar Goa Hantu termasuk si Empunya sendiri. Tidak hanya mereka. Anak-anak yang berasal dari arah lain pun juga ikut. Jalanan berbatu dan sebentar berbelok. Kemudian menanjak dan turun melewati lumpur. Anak-anak itu tetap melintasinya sembari kepalanya menengadah ke atas dan Pendekar Goa Hantu masih saja melayang-layang. Terkadang ke kiri, terkadang ke kanan. Mengikuti arah angin. Kecepatan yang melamban membuat Pendekar Goa Hantu mendarat tepat di atas lumpur. Tangan-tangan mulai menangkap tubuh Pendekar Goa hantu.

“Aku yang dapat.”

“Bukan. Akulah yang lebih dulu.”

“Ini punyaku.”

“Bukan punyamu. Ini punyaku.”

Begitu juga layangan lainnya,  selalu menjadi rebutan karena layangan itu  amat berharga untuk dinaikkan.
***
Sejak kejadian, itu, keberadaan Perdamaian semakin menjadi-jadi di langit. Gerakan berputar, menyerok, meluncur, menukik menghasilkan kemenangan. Satu demi satu tumbang.  Di atas bukit, anak-anak yang asyik di langit selalu melihat kejadian itu. Perlahan mereka mulai melirik-lirik satu sama lain. Saat kedatangan Si Empu layangan Perdamaian, mereka terdiam. Lamat-lamat, mereka tak mau melihat. Hanya tertuju pada layangan mereka. Bahkan ada juga yang langsung menurunkan layangannya. Takut kalau Perdamaian di langit sewaktu-waktu menyambar layangannya.

“Terbanglah tinggi. Jatuhkan lawan-lawanmu.” Kata Si Empu layangan Perdamaian saat mengulur benang. Suasana kian hening. Anak-anak di sekitar mendengar bagai ancaman.

“Tenanglah aku tak mengganggu yang ada di sini.”

Para pemain layang-layang di dekatnya menghela napas. Sementara Si Empu terus mengulur, kemudian ditaruk, mengulur, kemudian ditarik kembali. Perdamaian bergerak menukik ke bawah. Meluncur ke atas. Bergerak naik turun. Menyilang dan berhadapan dengan layangan lain yang tentu bukan berasal dari pemain di atas bukit. Sebentar-sebentar ada yang tumbang. Hingga senja, Di langit itu pemenang belum tergantikan. Siapa lagi kalau bukan Perdamaian.

Suatu hari Si Empu layangan Perdamaian tak ada di atas bukit. Ia pergi ke tempat lain. Berada di bukit sebelah timur. Ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon. Ia menerbangkan Perdamaian di atas angin. Pada langit-langit itu ia melihat banyak layangan. Lantas ia mengulurnya jauh agar tinggi. Setinggi-tingginya agar mencapai layangan yang lain. Tentu saja menyerang layangan itu.

Gulungan benang terus melepaskan uluran ke langit. Seperti biasa, gerakannya itu-itu saja. Menukik, meluncur, menyerong dan menyilang. Seperti biasa ada saja yang tumbang dan Si Empu langsung tertawa terbahak-bahak. Ia tahu bahwa lawannya adalah para pemain di atas bukit. Semuanya telah dikalahkan. Terlebih punggungnya bersayapkan layang-layang. Layang-layang itu adalah hasil buruan yang tumbang dari langit.
Tawanya kembali lepas menatap layangan Perdamaian di atas angin. Tiba-tiba tanpa di duga dua layangan mengepung di kiri dan kanan. Lantas menyilang. Si Empu tanpa sempat mengulur langsung menghadapi kenyataan bahwa Perdamaian juga ikut tumbang.

Si Empu tak tinggal diam. Ia mengejar. Menuruni bukit, melewati parit-parit. mendaki gungukan berbatu. Lalu melintasi jembatan. Tanpa terasa ia telah tiba di lingkungan pesisir, bersama anak-anak lainnya yang ikut mengejar layangan Perdamaian yang kuat dan merajai langit namun dalam keadaan tumbang tanpa pemilik.

Kepala-kepala anak itu terus menengadah ke langit memburu layangan Perdamaian. Si Empu yang terus mengejar tidak mau berpaling dari layangan miliknya.

Dalam pengejaran itu, satu kakinya menginjak lubang sehingga ia terjatuh. Ia mengerang kesakitan. Pengejaran terhenti.

Lantas, seseorang menghampirinya.

“Kamu tidak apa-apa?”

Si Empu tetap saja mengerang sakit. Matanya merah.

“Makanya, jangan lihat ke atas saja. Lihat-lihatlah ke bawah.”



Catatan:
Sontengan: saling bergesekan, berlawanan dalam sebuah permainan. Kata ini akrab jika digunakan saaat bermain layang-layang. Terutama di daerah Tarakan.

Kampung Satu Skip, 19 September 2019


R A P










Read More »

PAPUA ADALAH KITA, PAPUA ADALAH INDONESIA, Esai Panji S.N

0 comments

Belajar dari sejarah dan pengalaman hidup tentunya tidak membuat kita semakin terbelakang, namun hal itu perlu dalam menentukan langkah kita ke depan agar lebih baik. Peristiwa kerusuhan yang terjadi di Papua harusnya tidak terjadi, karena kita tahu betul dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang selama ini banyak didengungkan. Namun rupanya semboyan tersebut hanya sebatas tulisan “tak bermakna” dalam pengimplementasiannya. Berbeda-beda tetap satu jua, itulah kiranya arti dari semboyan yang sering kita dengar.

Perbedaan bukan menjadi barrier untuk saling menjalin persatuan dan kesatuan tanpa melihat agama, ras, suku, dan budayanya. Berawal peristiwa mahasiswa Papua di Malang yang bentrok dengan warga yang berujung ricuh, kerusuhan manokwari dan hingga insiden yang menggugurkan 1 TNI dan 2 warga sipil di deiyai. Setalah 1/2 Jam setelah kejadian, Kantor Berita Reuters yang berpusat di London membuat berita yang menyatakan 6 warga sipil tewas di tangan aparat.

Semua berjalan dengan cepat dan anehnya seperti dikoordinir dengan sistematis.”Tidak ada yang kebetulan dalam politik.kalau ada yang kebetulan, berarti itu telah di rencanakan!”-Franklin D Roosvelt, Presiden Amerika ke-36.

Peristiwa yang seakan berbau propaganda ini menimbulkan “efek domino”. Bermunculan unjuk rasa yang terjadi di beberapa titik daerah Papua dan Papua Barat disertai kerusuhan dan menimbulkan kerusakan pada 19-20 Agustus 2019. Tidak hanya di Papua, aksi protes hingga tuntutan referendum terjadi di beberapa wilayah di Jawa. Tujuannya  Apa? Disintegrasi Indonesia. Indonesia mau dimutilasi dimulai dari Papua!

Belajar dari pengalaman Timor Timur,  pemerintah sudah seharusnya takkan pernah menurut pada upaya disintegrasi bangsa. Pada kasus Timor Timur, Mayoritas Rakyat menginginkan tetap bersama NKRI. Namun fakta di TPS, Timor Timur Pisah.
Konflik Papua ini membuka mata kita untuk sadar bahwa Papua adalah kita. Papua adalah “intan permata” bangsa kita yang harus kita genggam erat dan tuntun secara beriringan. Sensitifitas etnis dan budaya kemasyarakatan yang rentan menimbulkan gesekan ini, harus diakomodir dengan tepat. Sehingga, tidak ada lagi kesalahpahaman dan masyarakat tidak mudah terprovokasi. Tidak ada lagi kepentingan-kepentingan yang menimbulkan konflik dan adu domba antar anak bangsa.

 Sudah cukup! mari Bersama-sama kita lepaskan baju kebesaran kita (red:keangkuhan) demi menjaga keutuhan. "Sejengkal Tanahpun Takkan Kita Serahkan Pada Lawan, Tapi Akan Kita Pertahankan Habis - Habisan!"

Kita bisa belajar pada Gus Dur dalam merangkul Papua. Gus Dur dikenal berjasa dalam mengangkat harkat dan martabat masyarakat Papua sebagai sesama warga bangsa Indonesia. Kita tidak ingin seperti Soviet yang terpecah menjadi 15 negara atau mengulang sejarah negara-negara boneka bentukan Belanda dalam Republik Indonesia Serikat. Indonesia memiliki hak penuh mempertahankan Negaranya.  Tidak ada satupun orang,organisasi atau negara lain yang boleh mendikte apa yang harus Indonesia lakukan untuk menjaga keutuhan negaranya.

Ingatlah jasa para veteran Operasi Amfibi terbesar di Indonesia dalam operasi Jaya Wijaya yang melibatkan 1000 wahana tempur dan 16000 Pasukan TNI yang siap membela Papua kedalam pelukan NKRI. Jangan sampai tangis air mata veteran operasi seroja Timor Timur, terulang kembali membasahi tanah Indonesia karena lepasnya papua. Jangan sampai anak cucu kita membaca buku sejarah di sekolah,tentang pernah adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpecah menjadi negara-negara kecil di masa depan nanti.

Pemerintah tidak perlu khawatir dalam menangani kerusuhan bahwa negara-negara di dunia seolah mendukung adanya keinginan referendum. Masyarakat internsional paham bahwa kerusuhan di bumi Papua bukan akibat pemerintah yang opresif terhadap masyarakat di Papua. Bahkan masyarakat internasional sudah sejak lama mengakui bumi Papua merupakan bagian kesatuan dari Indonesia.

Masyarakat internasional tidak pernah mempermasalahkan keberadaan bumi Papua layaknya Timor Timor saat dinyatakan oleh pemerintah Indonesia berintegrasi. Oleh karenanya pemerintah harus punya percaya diri yang tinggi untuk menyelesaikan kerusuhan di bumi Papua secara tegas, bermartabat dan cepat.
“Kita ini sama karena kita adalah Indonesia”


04 September 2019

“Panji Sukma Nugraha Ketua PKC PMII Kaltim-Kaltara Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mulawarman"






Read More »

Memulai Sebuah Tulisan (Rendy Ipien)

1 comments


Memulai Sebuah Tulisan

Ketika memulai tulisan, hal yang agak mengerikan adalah saat diri ini tak berdaya di hadapan keyboard dan komputer yang sudah stand by. Kedua, saat diri ini tak berdaya di hadapan gawai yang sudah On lengkap dengan internet dan aplikasi. Ketiga, saat  diri ini tak berdaya ketika memegang pena sedangkan kertas masih dalam keadaan putih bersih. Barangkali semua itu disebabkan kendala ide dan itu bisa dimaklumi. Keempat dan ini yang lebih mengerikan ialah saat diri ini sudah menangkap ide tapi masih tak berdaya di hadapan komputer, gawai, kertas lantaran ide mandek atau tulisan belum juga muncul.

Untuk menghindari hal tersebut, kuncinya adalah diri ini tidak boleh  kaku. MENULISLAH. Apa susahnya menulis? KETEK, BIAWAK, TUKANG URUT, PATAH TULANG, PEGAWAI NEGERI masih bisa ditulis. Pendek kata, pendek pula waktu. Sulitnya ketika menulis sudah tak bisa dipisahkan dengan bikin jurnal, buku fiksi, cerita pendek, novel, buku anak, skripsi dan inilah yang membawa seseorang menemui masalah ketika melakukannya. Padahal menulis adalah kata kerja sedangkan buku jurnal, buku fiksi, cerita pendek, novel, buku anak dan skripsi adalah bentuk dalam sebuah tulisan/karya. Dua hal ini berbeda tapi saling berhubungan. Menulis (Kata kerja) itu berlaku umum dan tak terbatas sedangkan bentuknya ialah berlaku khusus dan punya batasan. Arswendo menuliskan sebuah buku berjudul “Mengarang Itu Gampang” namun kenyataannya masih ada  penulis yang mendapat kesulitan mengarang. Pernyataan tersebut memang betul karena “mengarang” bagi para penafsirannya bisa jadi dari kata kerja menjadi kata bentuk (karangan) yang berisi rumus-rumus (prolog, plot, ending) dan dituntut harus mempolesnya sekreatif mungkin. Tetapi Puthut EA punya pendapat lain, bahwa menulis/mengarang itu bukan perkara sulit melainkan rumit. Kita bisa menulis apa saja, rumitnya ketika menata tulisan tersebut. Membangun alur, konflik, memberikan kejutan, referensi, metafor-metafor, dan seterusnya.

Jadi, untuk memudahkan menulis. Silahkan kesampingkan dulu bentuknya. Lupakan sejenak novel, buku anak, cerita pendek dan lain-lain yang berhubungan produk atau bentuk tulisan. Menulislah seperti biasa, menaburkan kata demi kata. Apa saja kata dalam pikiran. Entah mau menjadi kalimat, kuote, istilah dan lain sebagainya. Pengalaman merupakan hal paling mudah dan paling dekat dalam menulis. Saya dulu punya pengalaman dengan hobi/kegemaran. Kebetulan saya hobi dengan musik. Guru menghukum saya karena hobi. Saya bernyanyi sambil bermain gitar dan itu adalah hobi saya, lantas mengapa dihukum? Guru saya menyatakan saya bersalah karena bernyanyi disaat jam pelajaran. Artinya saya menyanyi diwaktu yang salah. Disitulah saya mengalah dan  hukumannya adalah menulis “SAYA BERJANJI TIDAK AKAN BERNYANYI DAN BERMAIN GITAR LAGI DI DALAM KELAS” dan kalimat itu saya tulis berulang-ulang sebanyak jumlah halaman buku. Kebetulan buku saya itu berisi 38 lembar bolak balik bermerk SIDU. Betapa jengkel dan menjenuhkannya hanya karena menuliskan kalimat tersebut. Apa yang saya dapat adalah  bahwa saya harus berjanji untuk mengungkapkan sesuatu yang bukan kata hati saya. Ibarat kata, bercerai dengan Nyanyi dan gitar. Padahal  Nyanyi dan gitar sedang tak ada pertengkaran hati dengan saya. Selain itu saya menguap dan tangan yang terasa pegal.  Pengalaman yang pahit. Namun setelah ditarik ke sini, pengalaman pahit itu mulai terasa manis karena secara tidak langsung guru tadi mengajarkan kita untuk menulis. Menulis disaat yang sulit. Sulit karena harus berlawanan dengan kata hati. Tapi saya masih bersyukur untuk tidak dilarang menyanyi di kamar mandi seperti yang tertera pada judul buku karangan Seno Gumira, bernyanyilah dan terus tertawa seperti dalam Lagu Laskar Pelangi gubahan Nidji. Dengan demikian, Hukuman telah mengajarkan diri untuk menulis. Lantas apakah si calon penulis perlu hukuman juga seperti cerita di atas? Silahkan anda menilai.

Kembali ke menulis,  jika kita terbiasa menulis mulailah menata tulisan itu ke dalam bentuk kalimat. Contoh kita sudah menemukan kata semisal KETEK, BIAWAK, PATAH TULANG, TUKANG URUT DAN PEGAWAI NEGERI. Maka selanjutnya, jadikan kalimat. Akan terdengar macam-macam bunyi seperti KETEKNYA SUNGGUH SAKTI. BIAWAK ITU MATI SETELAH DICEKEK PAKAI KETEK SEORANG PEMUDA. SAYANGNYA, LENGAN PEMUDA ITU MENGALAMI PATAH TULANG. SEGERA IA PERGI KE TUKANG URUT. SAYANGNYA, TUKANG URUT JUGA SIBUK MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK TES MENJADI PEGAWAI NEGERI. Satu, dua, tiga pelan-pelan ditata menjadi paragraf. Kembangkan paragraf demi paragraf maka jadilah sebuah tulisan. Inilah yang disebut A. S Laksana dan Ayu Utami sebagai asosiasi. Saat menjadi tulisan, bacalah. Jika takut atau malu dibaca orang lain, lantaran tersinggung atau hal lain, maka bacalah sendiri (Ayu Utami). Kemungkinan-kemungkinan pasti muncul. Buruk, bagus, jelek, kurang sreg adalah penilaian dan tanpa kita sadari penilaian itu ada karena suatu karya ( belum jadi) ikut hadir di sana. Setelah itu ketika kita ingin memoles, menjadikannya sebuah bentuk yang memiliki kualitas jempolan, maka pada tahap ini, A.S Laksana mewajibkan untuk digunakan langkah editing. Sebab editing tidak mungkin dilakukan tanpa adanya tulisan.


Jadi, Menulislah. Mengalir. Soal kualitas dan soal bentuk tidak sedikit penulis gelisah dibuatnya. Barangkali, inilah ranah penulisan kreatif. Saya masih berkutat di sana dan masih saja mandek. Apakah anda juga?

Kampung Satu Skip, 19 Agustus 2019





R A P















Read More »

BAGAIMANA INI? Cerpen Anto Narasoma

0 comments
Ilustrasi: Sipin

AIR muka  Muslim tampak teduh. Setelah ia membaca zikir berkali-kali hatinya menjadi tenang. Hari kedelapan belas ramadan membuat matanya mengantuk. 

    Sebab pada malam ketujuh belas Nuzulul Quran kemarin, ia tidak tidur semalaman karena salat malam. Ia selalu bermunajat ke pada Allah agar selalu mendapat berkah.

  Setelah membaca ayatul Kursi, di dalam hatinya ia selalu berzikir. Di lidahnya, asma Allah itu tak putus-putus ia sebut berkali-kali.

   Ia pernah berbincang dengan Parto,  tentang wujud sesorang muslim yang pasrah dan selalu berserah diri ke pada Allah.

   "Mengapa kau tidak pernah memakai songkok dan gamis sebagai seorang muslim?" tanya Parto di ruang kerja Muslim, beberapa hari lalu.

  Mendengar itu, Muslim tersenyum. Ia menatap lembut wajah sahabatnya ini.

   "Menurut saya, biarlah berpakaian seperti biasa. Kecuali pada hari-hari tertentu khusus pelaksaan keagamaan," jawab Muslim.

     Bagi Muslim, berserah diri ke pada Allah itu tak  harus memakai atribut keagamaan. Yang jelas, Allah itu tidak melihat manusia dari bentuknya. 

    "Allah melihat manusia dari hatinya. Jika hatinya bersih dan selalu mengejar kebaikan, maka orang itu memiliki kepasrahan jiwa untuk Tuhannya. Saya pikir, dialah orang baik yang taat beragama," ujar Muslim.

     Padahal saat itu Muslim sedang pusing dan tidak memiliki banyak uang. Di dompetnya hanya tersisa uang sebesar Rp 50 ribu saja. Padahal sebelum ia ke kantor, istrinya meminta uang untuk bayaran  sekolah anaknya.  Selain itu, minyak motornya sudah ke garis merah, minta diisi. Ya Allah, bagaimana ini?

     Muslim bingung bukan main. Namun di balik meja ruang kerjanya, ia tetap yakin ke pada Allah, ada saja sesuatu yang dapat mendatangkan rezeki bagi dia.

   Di saat dia tenggelam di dalam lamunannya yang panjang, pintu ruang kerjanya terbuka. Seseorang dengan rambut panjang lusuh berpakaian eksesntrik menyapanya.

  "Assalamualaikum," ucap laki-laki itu. Wajahnya tampak dibebani masalah.

  "Waalaikum salam. Silakan duduk. Dari mana ya?" tanya Muslim.

  Laki-laki itu manatap lembut ke wajah Muslim. Lalu ia tersenyum. "Mas Muslim tidak mengenali saya?".

    Muslim menatap laki-laki itu. Dalam sekali tatapannya hingga keningnya berkerut. "Dik Azhar?" tanya Muslim.

 "Alhamdulilah. Ternyata Mas Muslim.masih mengenali muka saya yang seram ini,"  tukas Azhar, tersenyum.

 "Subhanallah. Sudah sepuluh tahun terakhir kita tidak bertemu, Azhar?".

 "Iya, Mas. Saya tetap ngamen di gugusan rumah makan di Jalan Radial, Mas," ujar Azhar, tersenyum.

  "Ah, tidak apa-apa. Yang penting halal. Ada dua hal yang kita peroleh disaat mengamen. Pertama kita bahagia bernyanyi dengan.musik dan lagu-lagu yang kita sukai. Kedua, kita juga bahagia setelah membahagiakan orang, kita mendapat rezeki. Yang jelas, konsentrasi kita semata-mata hanya memberi hiburan untuk orang lain. Soal rezeki sudah ditentukan Allah," kata Muslim.

  "Iya Mas. Saya ingat ketika dulu Mas Muslim mengajari saya bernyanyi dan memetik gitar yang bagus. Hingga saat ini ajaran Mas Muslim itu tetap saya praktikkan".

  "Syukurlah. Semoga apa yang sudah dikuasai itu dapat kau kembangkan. Saya berdoa agar ada pihak yang mau mengajak kau rekaman, Azhar," tukas Muslim.

"Amin. Semoga saja".

  Perbingan kedua sahabat lama itu berlangsung akrab. Namun Azhar mengatakan saat ini suasananya sepi. Rumah-rumah makan tempat Azhar bekerja saat ini sepi bukan main.

  Setelah banyak yang diperbincangkan, wajah Azhar tampak mendung. Ada kesedihan mendalam di balik itu.

  "Ada apa, Dik Azhar? Kau tampak sedih," tanya Muslim dengan alis bertaut.

"Anakku sakit, Mas".

"Sakit?"

  "Iya, Mas. Saat ini ia dirawat di Rumah Sakit Dr Mohammad Hoesin," jawab Azhar.

"Sakit apa?".

"Demam berdarah. Ia membutuhkan obat luar. Saya harus menebusnya di apotek. Tapi saya tak punya uang. Saya mohon bantuan Mas Muslim untuk menebus obat anak saya itu," tukasnya. Mata Azhar digelimangi air mata.

  "Masya Allah, bagaimana aku bisa membantu Azhar? Sedangkan di saku hanya tersisa uang sebesar Rp 50 ribu. Tengki motorku nyaris kosong dan minta diisi.
Bagaimana ini?

  "Ini hari Sabtu. Mau ngutang ke kasir, ruangnya tutup. Memang. Tiap hari Sabtu kasir di kantornya tutup. Makanya Muslim tak dapat meminjam uang untuk kepentingan uang sekolah anaknya.

  "Mana resep obatnya, Dik Azhar. Coba saya lihat," tukas Muslim.

  Azhar segera menyerahkan resep obat yang kertasnya tampak lecek karena lipatan dari saku celananya ke pada Muslim.

  Ketika melihat resep itu, hati Muslim bertanya-tanya, apakah dia bisa membantu Azhar?

   Setelah melihat dan memperhatikan resep itu, di sebalik kertas itu ada catatan dari apotek, harga dua obat hanya Rp 50 ribu. Ah, Alhamdulillah.

  Muslim segera mengeluarkan yang hanya tinggal selembar bernilai Rp 50 ribuan itu, dan ia berikan ke Azhar.

  "Ini, uang untuk menebus obat anakmu di apotek. Jangan ditunda lagi. Sebab penyakit demam berdarah itu sangat berbahaya. Jika fasenya meningkat, dari pori-pori anakmu akan mengeluarkan darah. Ini sangat berbahaya," kata Muslim.

"Tapi Mas Muslim enggak ada uang lagi?".

  "Tak perlu memikirkan saya. Yang perlu kau pikirkan adalah kesehatan anakmu."

  Dengan berat hati, uang itu diterima Azhar. Laki-laki ini segera minta diri untuk menebus obat ke apotek.

   "Nanti dahulu, Azhar. Biar saya antar ke apotek. Apabila kau naik bus kota, uang itu akan pecah dan kau tidak bisa menebus obat anakmu," kata Muslim.

****

    Muslim mengantarkan Azhar ke apotek di sebelah RS Mohammad Hosein Palembang. Ia melihat ke spidometer motornya. Wah, tengki minyak motornya nyaris kosong. Bagaimana ini?

   Setelah tiba di apotek, Muslim segera pamit ke Azhar untuk kembali ke kantornya. Ia mempercepat laju motor itu agar tidak mogok di jalan. Namun di hari-hari sibuk, jalan ke arah kantornya seringkali macet. Karena itu Muslim mencari "jalan tikus" agar segera sampai di kantornya.

  Suasana seperti itu memang berat. Apalagi setelah tiba di 500 meter ke kantornya, motor itu mogok karena kehabisan bahan bakar. Masya Allah!

   Dengan keringat mengucur dan suhu badan menurun, Muslim harus mendorong sepeda motornya. Yang membuat ia megap-megap, ketika menghadapi medan tanjakan yang begitu tajam.

   Untunglah, ketika tiba di jalan kawasan  hutan wisata Puntikayu, seorang skuriti perusahaannya melihat Muslim dalam kondisi lelah.

  "Mas Muslim, biar aku saja yang mendorong motor anda," kata Herlani yang mencoba berlari kecil memburu Muslim yang terlihat kelelahan.

   "Ooo, Herlani. Terima kasih, Dik," tukas Muslim mengatur pernapasan sembari menyerahkan motornya ke Herlani.

   Hari ini suasana yang dialami Muslim benar-benar melelahkan. Selain napasnya megap-megap, suasana badannya terasa dingin. Uff, alangkah lelahnya. Maklum usianya sudah memasuki limit 47 tahun.

   Ia beristirahat sejenak sembari memulihkan kedaannya.  Di balik meja kerjanya sebagai humas perusahaan, pikirannya jauh melayang ke sana-sini.

  Bagaimana ketika hendak pulang kerja nanti?  Motornya kehabisan bahan bakar. Sedangkan sepeser uang sudah tak ada lagi di sakunya.

  Mau meminjam motor teman, mereka pun membutuhkannya. Wuih, bagaimana ini?

****

   Muslim.terperangkap dalam situasi bingung. Entah apa yang harus ia lakukan berhadapan suasana sulit yang membekukan kreativitasnya.

   Di sinilah Muslim harus memasrahkan segalanya ke pada Allah. Ah, tak usah takut. Muslim  
memiliki  Allah yang maha penolong. Saya yakin dengan kekuasaanNya, demikian hatinya berbisik.

    Di saat kebingungan seperti itu, tiba-tiba telpon di ruangannya berdering. Muslim segera menyambutnya.

    "Assalamualaikum. Saya. Muslim. Ada yang bisa kami bantu?" Muslim menyapa.

    "Walaikum salam. Mas Muslim, saya Pak Pringgono. Saya sangat membutuhkan anda, Mas," ujar suara dari seberang sana.

    "Ooo iya, Pak. Apa yang dapat saya bantu untuk anda, Pak Pringgono? Saya siap melayani," ujar Muslim dengan nada lembut.

   "Saya sedang menulis tesis untuk mengambil strata 3 di Universitas Gadjahmada, Mas. Bisa menolong saya, Mas?" tanyanya.

   "Oo baik. Nanti saya ke pasca sarjana Universitas Sriwijaya," ujar Muslim.

     "Silakan, Mas. Saya tunggu di kantor, ya?" kata suara itu.

   Setelah meminjam motor anak buahnya di kantor, Muslim segera melaju ke kantor pasca sarjana Unsri.

   Dalam perjalanan sekitar empat kilometer, akhirnya Muslim pun tiba di kantor Pak Tringgono. Ia disambut hangat oleh dosen senior di Unsri tersebut.

  Setelah diperlihatkan tesis di komputer Pak Tringgono, Muslim segera memperbaiki kalimat dan bahasa tesis itu.

   Setelah sejam lebih, akhirnya penyajian bahasa tesis itu dapat diperbaikinya. 

   "Wah, luar biasa sekali, Mas. Kalau penyajiannya seperti ini, saya tidak malu menyodorkannya ke pembimbing di UGM Jogja. Terima kasih, Mas," ujar Pak Tringgono.

   Sebelum kembali ke kantornya, Muslim disodori amplop sebagai rasa terima kasih Pak Tringgono.

  Setiba di ruang kerjanya, Muslim membuka amplop tersebut. Ternyata Pak Tringgono memberinya uang sejumlah Rp 1,5 juta.

   Ah, terima kasih Allah. Ia merasakan setelah dengan ikhlasnya memberi Azhar uang senilai Rp 50 ribu untuk menebus obat anaknya, Tuhan membalasnya 30 kali lipat dari nilai pemberiannya ke Azhar.

   Alhamdulilah. Uang itu akan ia gunakan untuk memberi si empunya motor, Rp 100 ribu diberikannya ke Herlani (skuriti)  dan membeli bahan bakar minyak. Selebihnya, uang itu diberikan ke istrinya setelah ia mengisi dompetnya Rp 100 ribu. (*)

Tirta Musi, 23 Februari 2014

Read More »

Ketua Umum PKC PMII Kalimantan Timur-Utara Mengapresiasi Pihak TNI-POLRI Dalam Mengamankan Pemilu

0 comments
   

Dok : pkck
   
   Panji Sukma Nugraha dalam silaturahminya dengan Polda Kaltim mengatakan sangat mengapresiasi pihak kepolisian yang mampu mengamankan aksi 21 & 22 Mei kemarin.

   Di samping itu dirinya menegaskan bahwa lembaganya mendukung penuh TNI-Polri dalam mengamankan kondisi pasca pemilu serta mendukung untuk mengusut dan menangkap pelaku kerusakan dan penyebaran berita-berita Hoax.

    “Kalau PMII sendiri jelas mendukung TNI-Polri dalam mengamankan segala bentuk aksi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan di NKRI ini. Bahkan kita mendukung penuh pihak kepolisian untuk menindak tegas semua pihak ataupun oknum-oknum yang mencoba memprovokasi masyarakat agar antipati, untuk itu kami minta kepada jajaran kepolisian agar tegas  dan menangkap para pelaku kerusakan dan penyebar berita-berita hoax karena itu sangat membahayakan bangsa kita.” Tegasnya.

     Maka dari itu,  ia mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk merajut kembali kesatuan dan persatuan demi terciptanya suasana yang harmonis demi keutuhan NKRI.

Read More »

Pemilu Berjalan lancar PKC PMII Kaltimra Tolak People Power

0 comments
sumber: dokpkc

  Kaltara –Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kaltimra menolak adanya seruan Amien Rais tentang ‘People Power’ ditanggapi oleh Ketua PKC PMII Kaltimra, Panji Sukma Nugraha. Menurutnya, agenda yang sudah diserukan sejak awal April 2019 tidak bisa terlaksana. Sebab, proses demokrasi sudah baik bahkan akan mencederai spirit demokrasi yang sudah sesuai konstitusi.

  ”Proses demokrasi saat ini berjalan sangat lancar. Serta pada pemilu tahun ini, telah sesuai yang dicita-citakan,” ucapnya melalui rilis, Senin malam (23/4/2019). Di mana tingkat partisipasi demokrasi telah mencapai 80,90 persen. Hal ini meningkat dari tahun 2014. Dibandingkan jika dibandingkan pada 2014 yang hanya mencapai 70 persen. Bahkan, jumlah tersebut melampaui target partipasi pemilu sekitar 77,5 persen.

  Tingkat partisipasi ini meningkat ditandai adanya masyarakat yang berbondong-bondong mengurus A5. Tercatat, di DKI Jakarta pada hari pengurusan A5, di sejumlah KPU penuh dengan antrean. Pada saat perpanjanganpun mengalami hal yang sama. Begitu pun para pemilih pemula yang turut andil dalam partisipasi demokrasi. 

  ”Hal ini menjadi keadaan adanya kemajuan dalam keikutsertaan pemilu. Di sisi lain, pihaknya juga berterimakasih kepada polri dan TNI mengamankan pemilu tahun ini. Selanjutnya, tokoh agama dan adat telah berpartisipasi mengawal demokrasi,” katanya.

  Jika sebagaian masyarakat menganggap banyak kecurangan, pihaknya mengajak kepada masyarakat untuk tenang. Tidak usah tersulut untuk melakukan sejumlah kegiatan yang membuat resah. seluruh sengketa kepemiluan telah disediakan perangkat penyelesaiannya, yakni melalui Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) hingga Mahkamah Konstitusi (MK).Pihaknya mengajak untuk  menunggu hasil akhir dari KPU pada 22 Mei 2019, mendatang.

  ”Seadainya masih ada hal-hal yang tidak sesuai bisa dibawa ke jalur hukum. Sebab, Indonesia adalah negara hukum. Silahkan laporkan kepada pihak berwajib dan bawaslu untuk menyelesaikan hal tersebut,” pungkasnya.

Read More »

"Dunia Tanpa Tawa" Cerita Pendek Oleh Rahmi Namirotulmina

1 comments

                Ilustrasi : Sipin


Dunia Tanpa Tawa

“ Bu kenalin, ini teman saya . Di sebelah kiri saya ini guru bahasa inggris.  Dan yang sebelah kanan  saya ini guru bahasa perancis

” . Begitulah cara Rio memperkenalkan kedua temannya. Bergaya seperti peserta cerdas cermat zaman dulu yang pernah tayang di televisi milik pemerintah. Rio berusaha melucu.

“ Kalo mas Rio sendiri, guru bahasa apa?” tanyaku .
“ Bahasa tubuh” katanya dengan ekspresi innocent. Aku tergelak. Rio tergelak, begitupun dengan kedua orang temannya.  Lalu aku menyalami mereka satu persatu. Memperkenalkan diri. Aku menyalami guru bahasa inggris, lalu menyalami guru bahasa perancis, setelah itu aku meyalami Rio.

“Alana” Kataku sopan “ Saya Rio. Bu alana cantik sekali” Kata rio lebih sopan “ Mas Rio juga gak kalah cantik”  Jawabku jauh lebih sopan . Rio terbahak. Aku menyusul terbahak, begitupun dengan kedua orang teman Rio. Setelah itu kami mengambil tempat duduk masing masing.  Kedua teman Rio mengambil posisi di sudut. Sebuah meja  dengan dua kursi.  Aku kembali ke tempat dudukku dan Rio mengambil tempat duduk di sampingku. Pun, meja kami hanya berkapasitas dua kursi.

Rio, lelaki 10 tahun lebih muda dariku ini selalu membuatku tergelak.
“ Mas Rio, Terimakasih sudah datang. Untuk kesekian kalinya menemani saya. saya senang berlama lama dengan mas Rio. Karena mas Rio selalu membuat saya tertawa” Rio tersipu
“Ibu salah, justeru saya lah yang senang berlama lama dengan ibu, karena ibu selalu membuat saya tertawa” aku ikut tersipu “ Gak lah mas Rio, mas Rio yang salah. Harusnya saya yang senang berlama lama dengan mas Rio karena mas Riolah yang selalu membuat saya tertawa “ Rio berusaha tersipu.

“ Ibu salah. Saya yang suka berlama lama dengan ibu. Karena ibu yang selalu membuat saya tertawa.”
“ Nggak mas.. saya yang suka berlama lama karena yang membuat saya tertawa itu..”

“Sumpah bu, saya yang suka berlama lama bu. Sumpah, ibu yang membuat saya..”

“ Mas Rio! Saya yang suka berlama lama!”
‘”Saya bu!”

“ Saya Mas!” Lalu kami tergelak. Tawaku  keras sekali. Begitupun dengan Rio. Aku dan Rio selalu terbahak bersama. Begitu lepas. Begitu bebas.  Kemudian, Rio menatapku lekat. Bola matanya mengunci bola mataku. Tatapan kami saling merekat. Rio berkata dengan suara yang berat.
“ Kita berdua sama sama suka lama lama. Kita berdua sama sama suka membuat tertawa”  Aku terenyuh. Aku terharu.
“ Untuk saat ini, aku hanya butuh tertawa. Untuk saat ini tak ada yang lebih penting bagiku selain tertawa”.   Bisikku, Rio menggenggam tanganku dan aku merasa begitu hangat. Perempuan yang sudah lama menikah sepertiku, sudah jarang tertawa. Bahkan rasanya, hampir tidak pernah tertawa.

 Kewajiban dan beban sebagai istri dan seorang ibu adalah hal yang begitu serius dan tak patut  ditertawakan.  Suami tidak suka masakan istri, anak anak terkadang tidak selesai mengerjakan PR, tagihan listrik merangkak naik padahal lampu selalu diredupkan,  timbangan berat badan yang justru semakin ke kanan, dan seterusnya adalah hal hal  serius yang tidak bisa ditertawakan. Sementara live streaming mengintip di mana mana. Menuntut kesempurnaan dan memviralkan kekurangan . Sekali seorang istri, seorang ibu lengah karena  lelah, maka caci maki pasti bertubi tubi. Perempuan yang sudah lama menikah sepertiku, tak punya waktu untuk sekedar  tertawa .

  Bila materi terlalu sempit, uang begitu sedikit sementara kebutuhan beraneka rupa, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara?  Bila suami sibuk berasyik masyuk dengan dunianya, tak sempat menyapa apalagi memberi  waktu untuk bercumbu, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara? Bila anak anak tak bisa berlaku seperti yang diinginkan, lintang pukang dengan kenakalan, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara? Bila segala doa telah dirapalkan setiap waktu namun Tuhan meminta kita menunggu, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara? Sayangnya perempuan yang sudah lama menikah sepertiku, lupa caranya tertawa.

 “Hayyooooo..ngelamun lagi. Nih, diminum!” Rio menyodorkan sebotol kecap. Membuyarkan lamunanku dan kembali membuatku tergelak.

 “ Camilannya mas..” Aku menyodorkan tumpukan tusuk gigi. Sekarang Rio yang terbahak. Melihatnya terbahak, aku merasa kosong.  Narendra suamiku, tak pernah tergelak oleh ku. Begitupun aku selalu dibuatnya beku. Mengapa dua orang yang saling mencintai dan sudah lama menikah tidak memiliki cukup alasan untuk tertawa bersama? Bila aku bersama Narendra, kami terkepung kebekuan. Bila aku bicara, dia diam.  Obrolanku akan berakhir ketika dia menimpali “ Oh, begitu ya..”. Ketika dia yang bercerita, aku akan diam. Dan kisahnya berakhir setelah aku menyahut  “Oh, begitu ya.” Setelah itu kami terjebak dalam situasi salah tingkah. Kami mengobatinya dengan menyibukkan diri pada gadget masing masing. Kami bersama dalam hampa. Belum sempat tertawa bersama, kami sudah merasa asing. Lagi pula, aku juga tidak tahu mengapa. Bersama Narendra aku merasa buntu untuk melucu. Merasa tak lucu dan merasa percuma bila melucu. Kurasa Narendra juga merasa begitu. Dia tidak lucu, tidak pernah berusaha melucu ataupun merasa perlu melucu bersamaku. Hubungan kami begitu datar dalam ketegangan.

 Aku telah menjalani banyak  kebosanan. Dan aku tidak pernah mempertanyakan mengapa aku dan Narendra kehilangan kehangatan. Narendra pun bersikap acuh, tak pernah berusaha mengurai ujung pangkal persoalan.  Kami berdua dalam kepasrahan dicekam bosan yang tak berkesudahan.

  “Mas, aku pulang ya..cucian di rumah numpuk” kataku sambil menandaskan capuccino di cangkirku.

  “Ok, nanti saya nyusul kerumah ibu ya, kebetulan cucian saya juga numpuk. Bisa sekalian ibu cuci “ Jawabnya sambil buru buru menandaskan capuccino di cangkirnya.

  “Cucian saya, nggak saya cuci mas. Saya buang! Saya kan hoooorrrraaaangng kaaaayyyyaahhh, Baju sekali pakai” Rio terkekeh, lalu buru buru mengeluarkan uang untuk membayar cangkir capuccinoku dan cangkir capuccinonya.
 “ Saya hoorrraaang kayyyaah bu.. uang di dompet saya ini sekali pakai saja” Katanya ketika aku mencegahnya membayar. Aku tersenyum.

  “ Hati hati di jalan bu. Jangan lupakan aku. Kirim surat kalau sudah sampai ya. Aku akan selalu rindu...” begitu suara Rio lamat lamat terdengar. Dari kaca spion kulihat sesekali dia menempelkan jari jari di bibirnya, memberi ciuman jarak jauh. Rio masih tetap berusaha melucu dangan aku masih sempat terkekeh sendirian.

   Di langit, senja terbakar. Kuinjak gas dengan perasaan kosong . Aku telah siap menjalani  dunia tanpa tawa, hanya saja aku tidak tahu sampai berapa lama  aku sanggup.



Rahmi Namirotulmina adalah pendidik di salah satu sekolah di daerah Kuaro, Kalimantan Timur. Penulis merupakan pegiat sastra dan aktif di laman Facebook.

Read More »