Pemilu Berjalan lancar PKC PMII Kaltimra Tolak People Power

0 comments
sumber: dokpkc

  Kaltara –Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kaltimra menolak adanya seruan Amien Rais tentang ‘People Power’ ditanggapi oleh Ketua PKC PMII Kaltimra, Panji Sukma Nugraha. Menurutnya, agenda yang sudah diserukan sejak awal April 2019 tidak bisa terlaksana. Sebab, proses demokrasi sudah baik bahkan akan mencederai spirit demokrasi yang sudah sesuai konstitusi.

  ”Proses demokrasi saat ini berjalan sangat lancar. Serta pada pemilu tahun ini, telah sesuai yang dicita-citakan,” ucapnya melalui rilis, Senin malam (23/4/2019). Di mana tingkat partisipasi demokrasi telah mencapai 80,90 persen. Hal ini meningkat dari tahun 2014. Dibandingkan jika dibandingkan pada 2014 yang hanya mencapai 70 persen. Bahkan, jumlah tersebut melampaui target partipasi pemilu sekitar 77,5 persen.

  Tingkat partisipasi ini meningkat ditandai adanya masyarakat yang berbondong-bondong mengurus A5. Tercatat, di DKI Jakarta pada hari pengurusan A5, di sejumlah KPU penuh dengan antrean. Pada saat perpanjanganpun mengalami hal yang sama. Begitu pun para pemilih pemula yang turut andil dalam partisipasi demokrasi. 

  ”Hal ini menjadi keadaan adanya kemajuan dalam keikutsertaan pemilu. Di sisi lain, pihaknya juga berterimakasih kepada polri dan TNI mengamankan pemilu tahun ini. Selanjutnya, tokoh agama dan adat telah berpartisipasi mengawal demokrasi,” katanya.

  Jika sebagaian masyarakat menganggap banyak kecurangan, pihaknya mengajak kepada masyarakat untuk tenang. Tidak usah tersulut untuk melakukan sejumlah kegiatan yang membuat resah. seluruh sengketa kepemiluan telah disediakan perangkat penyelesaiannya, yakni melalui Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) hingga Mahkamah Konstitusi (MK).Pihaknya mengajak untuk  menunggu hasil akhir dari KPU pada 22 Mei 2019, mendatang.

  ”Seadainya masih ada hal-hal yang tidak sesuai bisa dibawa ke jalur hukum. Sebab, Indonesia adalah negara hukum. Silahkan laporkan kepada pihak berwajib dan bawaslu untuk menyelesaikan hal tersebut,” pungkasnya.

Read More »

"Dunia Tanpa Tawa" Cerita Pendek Oleh Rahmi Namirotulmina

1 comments

                Ilustrasi : Sipin


Dunia Tanpa Tawa

“ Bu kenalin, ini teman saya . Di sebelah kiri saya ini guru bahasa inggris.  Dan yang sebelah kanan  saya ini guru bahasa perancis

” . Begitulah cara Rio memperkenalkan kedua temannya. Bergaya seperti peserta cerdas cermat zaman dulu yang pernah tayang di televisi milik pemerintah. Rio berusaha melucu.

“ Kalo mas Rio sendiri, guru bahasa apa?” tanyaku .
“ Bahasa tubuh” katanya dengan ekspresi innocent. Aku tergelak. Rio tergelak, begitupun dengan kedua orang temannya.  Lalu aku menyalami mereka satu persatu. Memperkenalkan diri. Aku menyalami guru bahasa inggris, lalu menyalami guru bahasa perancis, setelah itu aku meyalami Rio.

“Alana” Kataku sopan “ Saya Rio. Bu alana cantik sekali” Kata rio lebih sopan “ Mas Rio juga gak kalah cantik”  Jawabku jauh lebih sopan . Rio terbahak. Aku menyusul terbahak, begitupun dengan kedua orang teman Rio. Setelah itu kami mengambil tempat duduk masing masing.  Kedua teman Rio mengambil posisi di sudut. Sebuah meja  dengan dua kursi.  Aku kembali ke tempat dudukku dan Rio mengambil tempat duduk di sampingku. Pun, meja kami hanya berkapasitas dua kursi.

Rio, lelaki 10 tahun lebih muda dariku ini selalu membuatku tergelak.
“ Mas Rio, Terimakasih sudah datang. Untuk kesekian kalinya menemani saya. saya senang berlama lama dengan mas Rio. Karena mas Rio selalu membuat saya tertawa” Rio tersipu
“Ibu salah, justeru saya lah yang senang berlama lama dengan ibu, karena ibu selalu membuat saya tertawa” aku ikut tersipu “ Gak lah mas Rio, mas Rio yang salah. Harusnya saya yang senang berlama lama dengan mas Rio karena mas Riolah yang selalu membuat saya tertawa “ Rio berusaha tersipu.

“ Ibu salah. Saya yang suka berlama lama dengan ibu. Karena ibu yang selalu membuat saya tertawa.”
“ Nggak mas.. saya yang suka berlama lama karena yang membuat saya tertawa itu..”

“Sumpah bu, saya yang suka berlama lama bu. Sumpah, ibu yang membuat saya..”

“ Mas Rio! Saya yang suka berlama lama!”
‘”Saya bu!”

“ Saya Mas!” Lalu kami tergelak. Tawaku  keras sekali. Begitupun dengan Rio. Aku dan Rio selalu terbahak bersama. Begitu lepas. Begitu bebas.  Kemudian, Rio menatapku lekat. Bola matanya mengunci bola mataku. Tatapan kami saling merekat. Rio berkata dengan suara yang berat.
“ Kita berdua sama sama suka lama lama. Kita berdua sama sama suka membuat tertawa”  Aku terenyuh. Aku terharu.
“ Untuk saat ini, aku hanya butuh tertawa. Untuk saat ini tak ada yang lebih penting bagiku selain tertawa”.   Bisikku, Rio menggenggam tanganku dan aku merasa begitu hangat. Perempuan yang sudah lama menikah sepertiku, sudah jarang tertawa. Bahkan rasanya, hampir tidak pernah tertawa.

 Kewajiban dan beban sebagai istri dan seorang ibu adalah hal yang begitu serius dan tak patut  ditertawakan.  Suami tidak suka masakan istri, anak anak terkadang tidak selesai mengerjakan PR, tagihan listrik merangkak naik padahal lampu selalu diredupkan,  timbangan berat badan yang justru semakin ke kanan, dan seterusnya adalah hal hal  serius yang tidak bisa ditertawakan. Sementara live streaming mengintip di mana mana. Menuntut kesempurnaan dan memviralkan kekurangan . Sekali seorang istri, seorang ibu lengah karena  lelah, maka caci maki pasti bertubi tubi. Perempuan yang sudah lama menikah sepertiku, tak punya waktu untuk sekedar  tertawa .

  Bila materi terlalu sempit, uang begitu sedikit sementara kebutuhan beraneka rupa, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara?  Bila suami sibuk berasyik masyuk dengan dunianya, tak sempat menyapa apalagi memberi  waktu untuk bercumbu, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara? Bila anak anak tak bisa berlaku seperti yang diinginkan, lintang pukang dengan kenakalan, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara? Bila segala doa telah dirapalkan setiap waktu namun Tuhan meminta kita menunggu, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara? Sayangnya perempuan yang sudah lama menikah sepertiku, lupa caranya tertawa.

 “Hayyooooo..ngelamun lagi. Nih, diminum!” Rio menyodorkan sebotol kecap. Membuyarkan lamunanku dan kembali membuatku tergelak.

 “ Camilannya mas..” Aku menyodorkan tumpukan tusuk gigi. Sekarang Rio yang terbahak. Melihatnya terbahak, aku merasa kosong.  Narendra suamiku, tak pernah tergelak oleh ku. Begitupun aku selalu dibuatnya beku. Mengapa dua orang yang saling mencintai dan sudah lama menikah tidak memiliki cukup alasan untuk tertawa bersama? Bila aku bersama Narendra, kami terkepung kebekuan. Bila aku bicara, dia diam.  Obrolanku akan berakhir ketika dia menimpali “ Oh, begitu ya..”. Ketika dia yang bercerita, aku akan diam. Dan kisahnya berakhir setelah aku menyahut  “Oh, begitu ya.” Setelah itu kami terjebak dalam situasi salah tingkah. Kami mengobatinya dengan menyibukkan diri pada gadget masing masing. Kami bersama dalam hampa. Belum sempat tertawa bersama, kami sudah merasa asing. Lagi pula, aku juga tidak tahu mengapa. Bersama Narendra aku merasa buntu untuk melucu. Merasa tak lucu dan merasa percuma bila melucu. Kurasa Narendra juga merasa begitu. Dia tidak lucu, tidak pernah berusaha melucu ataupun merasa perlu melucu bersamaku. Hubungan kami begitu datar dalam ketegangan.

 Aku telah menjalani banyak  kebosanan. Dan aku tidak pernah mempertanyakan mengapa aku dan Narendra kehilangan kehangatan. Narendra pun bersikap acuh, tak pernah berusaha mengurai ujung pangkal persoalan.  Kami berdua dalam kepasrahan dicekam bosan yang tak berkesudahan.

  “Mas, aku pulang ya..cucian di rumah numpuk” kataku sambil menandaskan capuccino di cangkirku.

  “Ok, nanti saya nyusul kerumah ibu ya, kebetulan cucian saya juga numpuk. Bisa sekalian ibu cuci “ Jawabnya sambil buru buru menandaskan capuccino di cangkirnya.

  “Cucian saya, nggak saya cuci mas. Saya buang! Saya kan hoooorrrraaaangng kaaaayyyyaahhh, Baju sekali pakai” Rio terkekeh, lalu buru buru mengeluarkan uang untuk membayar cangkir capuccinoku dan cangkir capuccinonya.
 “ Saya hoorrraaang kayyyaah bu.. uang di dompet saya ini sekali pakai saja” Katanya ketika aku mencegahnya membayar. Aku tersenyum.

  “ Hati hati di jalan bu. Jangan lupakan aku. Kirim surat kalau sudah sampai ya. Aku akan selalu rindu...” begitu suara Rio lamat lamat terdengar. Dari kaca spion kulihat sesekali dia menempelkan jari jari di bibirnya, memberi ciuman jarak jauh. Rio masih tetap berusaha melucu dangan aku masih sempat terkekeh sendirian.

   Di langit, senja terbakar. Kuinjak gas dengan perasaan kosong . Aku telah siap menjalani  dunia tanpa tawa, hanya saja aku tidak tahu sampai berapa lama  aku sanggup.



Rahmi Namirotulmina adalah pendidik di salah satu sekolah di daerah Kuaro, Kalimantan Timur. Penulis merupakan pegiat sastra dan aktif di laman Facebook.

Read More »

KECEBONG

0 comments


Oleh Muhammad Thobroni - Budayawan,  tinggal di Kalimantan Utara


KECEBONG

Hari-hari orang Indonesia belakangan ini kerap diperdengarkan istilah "kecebong". Mula-mula, istilah tersebut hanya berseliweran lalu-lalang lewat telinga dalam perbincangan warung kopi atau hilir-mudik di beranda media sosial. Namun, pelan tapi pasti, "kecebong" bergerak liar dalam kolam kehidupan yang luas dan rumit. Di dunia politik praktis Indonesia, "kecebong" dihadirkan dalam maknanya yang peyoratif dan bahkan cenderung stereotip.
Jadi, apakah itu "kecebong" yang sebenar-benarnya secara bahasa dan asal-usulnya?
Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  versi online, dapat ditemukan makna bahwa kecebong ditulis ke.ce.bong /kece'bong/ n merupakan larva binatang amfibi, semacam katak dan sebagainya,  yang hidup di air dan bernapas dengan insang serta memiliki ekor.
Sementara dalam versi wikipedia dijelaskan bahwa kecebong atau berudu merupakan tahap pradewasa dalam daur hidup amfibia. Kecebong secara ekslusif hidup di dalam air dan bernafas menggunakan ingsang. Pada tahap akuatik tersebut, amfibia memperoleh namanya. Lain dari itu semua, umumnya kecebong dikenal sebagai herbivora alias hewan pemangsa tumbuhan semacam alga. Namun, terdapat beberapa jenis kecebong ternyata omnivora alias kanibal pemakan daging bahkan memangsa sesamanya. Hal itu terutama dapat terjadi bila tak ada lagi makanan utama yang dapat dimangsanya.  Setelah dewasa, kecebong berubah menjadi hewan tersohor dalam kehidupan manusia yakni katak alias kodok.
Kodok dan kecebong khususnya masuk dalam ranah perdebatan politik, menjadi slogan politik, berita politik, bahkan ujaran kebencian politik, saat bersamaan dengan munculnya Joko Widodo menjadi pemimpin di ibukota dan belakangan menjadi presiden.
Dari berbagai media nasional maupun lokal dengan mudah ditemukan informasi tentang kedekatan kodok dan kecebong dengan pribadi Joko Widodo. Bukan rahasia bila Joko Widodo alias Jokowi gemar memelihara kodok dan kecebong juga. Bahkan, Jokowi memiliki kolam air yang penuh berisi kecebong. Sesekali dalam waktu luangnya, Jokowi mengambil dan bermain dengan peliharaannya.
Musuh politik Jokowi, terutama sejak proses politik yang mengeras dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta dan Presiden Indonesia, secara bersemangat melabeli para pendukung Jokowi dengan sebutan kecebong, atau cebong, atau kerap pula hanya penggalan belakang nama yakni Bong saja. Dalam fenomena milenial yang disruptif, sebutan kecebong atau cebong itu kadang dapat bergeser menjadi cebongers, chebby, dan sebagainya.
Sebutan cebong dari lawan politik secara bahasa tampak menjadi stigma negatif yang dapat dimaknai bahwa pendukung Jokowi, atau bahkan siapapun yang tidak melawan Jokowi meski belum tentu mendukung Jokowi, merupakan hewan peliharaan semata. Para cebonger tersebut dianggap menjadi peliharan Jokowi dan hanya dimanfaatkan semata. Stigma itu tentu saja mengandung kekerasan linguistik, bahkan dapat memicu ujaran kebencian yang berbahaya sebab dikhawatirkan mampu melahirkan disintegrasi masyarakat Indonesia.
Namun, fenomena sebutan kecebong tampaknya tak selalu negatif atau setidaknya dianggap bukan sesuatu yang negatif dan stereotip, khususnya di kalangan pengikut Jokowi militan. Bahkan, kecebong itu dikemas dalam istilah bahasa milenial yakni Chebby, dan menjadi sebuah ikon budaya bahasa politik baru yang mampu mewarnai jagad perbahasaan di Indonesia. Kebanggaan sebutan sebagai kelompok kecebong dengan istilah chebby alias cebong yang keren tersebut tampaknya dapat mengurangi ketegangan komunikasi berbahasa dalam dialektika politik akhir-akhir ini.
Sebuah istilah bahasa memang pada awalnya hanya fenomena biasa, netral, sebagaimana pula kemunculan sebutan lain. Namun, sebuah istilah bahasa, sebagaimana juga fenomena bahasa lain, akan diuji oleh zaman dan sejarah, dan sangat terbuka mengalami pergeseran termasuk pergeseran ke arah negatif. Namun, dalam tarik-ulur perebutan makna, "lawan tutur" memiliki kesempatan untuk memberikan makna lain sebagai tandingan. Cebong dalam maknanya yang ideologis, bukan semata hewan amfibi, pada akhirnya muncul dan berdiri di ruang pertarungan ideologi bahasa.
Memang banyak orang berkeinginan bahasa digunakan di ruang netral, dalam maksud tidak dibajak kooptasi politik praktis. Namun, hal demikian itu tampaknya hanya mudah dituliskan, bukan?



Read More »

PII, ALUMNI PII DAN KESAKSIAN ALUMNI PII

0 comments



OLEH MUHAMMAD IKHSAN - GURU DI SEBATIK, KABUPATEN NUNUKAN

PII, ALUMNI PII DAN KESAKSIAN ALUMNI PII


Alhamdulillah beberapa waktunya Lalu saya  kedatangan tamu istimewa, kanda KH. Muslihuddin Rasyid, LC, M. Pd. I., anggota DPD - RI.

Saya sempat kaget ketika beliau datang, selain tanpa pemberitahuan setahu saya beliau tidak tahu alamat rumah saya yang akhirnya beliau temukan setelah bertanya pada beberapa orang.

Yang mengharukan adalah kedatangan beliau ke rumah kami berkenaan dengan pelaksanaan Leadership Basic Training - Pelajar Islam Indonesia. (LBT - PII) yang rencananya akan digelar di Sebatik dan Nunukan.

Kami memang sama-sama pernah dikader di PII. Beliau kader PII era 80-an sebelum melanjutkan studinya di Al-Azhar, Kairo -Mesir sedangkan saya kader PII era 90-an.
Meski berbeda wilayah, beliau di Banjarmasin dan saya di Makassar namun ikatan emosional selaku kader PII tetaplah kental.

Pelajar Islam Indonesia atau disingkat dengan PII adalah organisasi pelajar terbesar di Indonesia yang didirikan pada tahun 1947. Kiprahnya dalam mengawal dan mengisi kemerdekaan tak dapat diragukan lagi. Pada tahun 1965, PII adalah organisasi pelajar yang mempelopori Kesatuan Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) yang aktif dalam pengganyangan PKI. PII memang salah satu musuh bebuyutan PKI pasca tragedi Kanigoro atau Kanigoro affair yakni pembantaian kader PII yang sedang melaksanakan Bastra oleh massa PKI. Tragedi itu menjadi prolog dalam film pengkhianatan G 30 S/PKI garapan Arifin C. Noer.

Thn 1996 ketika masih duduk di bangku kelas 2 SMA saya mengikuti pengkaderan PII di Perguruan Islam Datu Museng. Ketika itu PII adalah salah satu ormas yang dibubarkan oleh rezim ORBA lantaran menolak azas tunggal dan melanggar UU No. 8 thn 1985 tentang Keormasan  dan karena dianggap ilegal maka kami kerap diintai aparat keamanan bahkan beberapa senior kami ditangkapi namun justeru itu yang menjadi pesona bagi anak2 ABG seperti kami.  Saking menariknya PII dimata saya waktu itu sampai-sampai saya memutuskan untuk berhenti dari Pramuka Saka Bahari pada tahun 1996 dan mengikuti latihan Brigade PII di sebuah pantai yang sunyi di Sulsel.  Situasi baru berubah ketika PII kembali legal pada tahun  1997 pasca Muktamar PII di Jakarta yang mengharu biru. Ribuan kader tumpah ruah memenuhi arena kongres mulai dari  A.M Fatwa, Ali Muhtar Ngabalin hingga Yusril Ihza Mahendra yang  notabene adalah kader PII. Sebuah lagu barupun diciptakan (Untukmu PII) dan dinyanyikan dengan syahdu oleh Korps PII - Wati diiringi isak tangis para kader PII se-Indonesia. Hari itu serasa kami bagaikan kombatan yang turun gunung.
Keharuan itu masih membekas hingga saat ini ketika beliau datang dgn senyumannya yang tulus. 
Ketika mulai kuliah saya aktif di beberapa lembaga kemahasiswaan diantaranya Badan Eksekutif Mahasiswa dan HMI namun PII tetaplah cinta pertama yang memperkenalkan saya pada dunia pergerakan.

Pada pertemuan tadi pagi beliau menyoal degradasi moral di kalangan pelajar yang makin mengkhawatirkan mulai dari peredaran narkoba hingga pergaulan bebas sekaligus menaruh harapan besar agar eksistensi PII di tapal batas bisa mereduksi hal tersebut. Oleh karena itu beliau menitipkan amanah agar menggiatkan PII di perbatasan yang tentu saja cukup berat namun challenging bagi kami.

Banyak hal-hal inspiratif yang saya dapat dari pertemuan singkat dengan beliau tadi pagi di antaranya adalah komitmen keummatan beliau yang tak juga luntur di usianya yang mulai sepuh. Cucu ulama Banjar KH Abul Hasan, seorang penyebar agama Islam di Kaltim ini tampaknya mewarisi kealiman sang kakek.

Semoga Allah SWT memberi kesehatan pada beliau KH. Muslihuddin Rasyid, LC, M. Pd. I dalam segala ikhtiar dan perjuangannya untuk ummat.


Read More »

10 PENYAKIT HATI YANG DAPAT MERUSAK KEBAHAGIAAN HIDUP MANUSIA

0 comments


OLEH MUHAMMAD FUADI KUSTANTO -RELAWAN LAZISNU KOTA TARAKAN

10 PENYAKIT HATI YANG DAPAT MERUSAK KEBAHAGIAAN HIDUP MANUSIA

Mari jauhi Penyakit yang sering hadir tak diundang dan tanpa sadar terus menggerogoti kebahagiaan hidup kita sebagai manusia.

1. SOMBONG Dan Angkuh.
Manusia Dimanapun tidak berhak Untuk Menyombongkan Dirinya. Karena Manusia Sejak Lahir, tidak Bawa apa-apa. Jadi Tidak sepantasnya manusia itu Sombong dan Angkuh. Karena  sejatinya yang Memiliki Sifat JUBAH, seperti itu Hanyalah Sang Pencipta. Bukan kita ciptaannya. Karena Kemampuan kita Terbatas Ruang, Waktu, dan Tempat.

2. Dengki ( Benci dan Dendam).
Salah satu sifat yang paling di sukai iblis ialah membenci dan Kebencian serta dendam. Benci ini karena perasaan tidak Suka terhadap sesuatu Hal yang di harapkan. Serta Dendam Timbul karena rasa Iri dan benci  yang tidak kesampaian untuk Membalasnya.

3. BURUK Sangka ( Negatif Feeling, Negatif Thinking).
Buruk sangka merupakan salah satu sifat yang di liputi rasa Negatif. Dan selalu punya Siwak Sangka. Terhadap orang lain tidak pernah baik. Dan Positif. Berprasangka aneh-aneh. Terhadap lingkungan dan orang lain. Yang belum tentu seperti itu kejadiannya. .

4. IRI/ Hasut.
Sifat tidak senang melihat orang Lain bahagia. Sifat tidak senang melihat orang lain memperoleh kenikmatan hidup yang lebih dari dirinya. Serta. Selalu sifat mencari Keburukkan orang lain. Dan Mengadu Domba .

5. GHIBA/ Gossip ( Menceritakan Aib Orang Lain).
Sifat yang selalu membuka kesalahan dan keburukkan orang lain. Di hadapan orang lain, merupakan sifat kurang terpuji dan kurang Baik Akhlaknya. Karena Ghiba merupakan sifat tercela yang harus kita jauhi Bersama.

6. Kikir
Sifat Kurang welas Asih Terhadap apa yang kita miliki. Merupakan sifat Yang pelit, dan Takut Akan Kekurangan Apa yang kita miliki. Tidak mau berbagi dengan Yang lainnya. Atau biasa di sebit pelit.. tidak mau berbagi Apa yang dimilikinya dengan Orang lain. Yang membutuhkannya. Seolah itu semua miliknya. Padahal didalam harta apapun yang kita miliki Ada Harta org lain.

7. RIYA.dan ujub
Riya Merupakan Sifat Pamer. Memiliki sesuatu yang dia miliki dan apapun yang dilakukan. Selalu di lihatkan ke orang Lain. Dan bangga dengan dirinya. Atau terlalu bangga dengan Dirinya.

8. Amarah.
Amarah merupakan Sifat Hati yang kurang baik dan Tidak Terpuji. Dan tidak sabar, Sifat seperti ini, merupakan yang sensitif dan  baper ( Bawa Perasaan).

9. Selalu mengeluh atau tidak Bersyukur.
Sifat mengeluh dan tidak bersyukur merupakan penyakit hati. Yang tidak pernah bersikap syukur atas hidupnya selama ini. Selalu keluh kesah.. dan minta tambah yang lebih..tidak pernah merasa cukup selalu terasa kekurangan dalam Hidupnya.

10.  Terlalu Mengejar Dunia.
Dunia ini yang di kejar manusia.. harta dan jabatan. Tergila-gila dengan Kehidupan Dunia yang hanya sebentar. Tempat singgah makan dan minum saja. Tidak lama hidup dunia ini. Tertipu dengan indahnya kehidupan dunia, warna warni dunia. Terbawa hiruk pikuk kehidupan duniawi Yang merupakan kehidupan kebendaan Materi. Tidak pernah cukup dengan Kehidupannya. Terjebak kehidupan dunia.



Mudahan Coretan ini Bermanfaat untuk yang membacanya. Panjang Umur, Dan memperoleh Kebahagiaan Lahir batin. Berkah dunia Akhirat. Dan dimudahkan dalam Segala urusan. Amin.

Coretan: M. Fuadi Kustanto/ G.Adi Kustanto/ Adi. S.Pd.

πŸŒΎπŸŒΎπŸŒΎπŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨

Read More »

PUISI GAUS AHMAD, JAKARTA - IDEOLOGI DAN UTOPIA

0 comments



Puisi Gaus Ahmad, Jakarta

IDEOLOGI DAN UTOPIA

Setiap lelaki hidup dengan mimpi yang jatuh dari sebatang pohon. Mereka menganggap itulah cinta paling agung yang disemaikan oleh semesta dan tumbuh di tubuh perempuan -- dimana sungai-sungai mengalir deras, bukit-bukit berbaris, dan lahan perkebunan terbentang luas

Dunia adalah mimpi para lelaki dengan perempuan yang hanya terlihat bulu matanya di hutan cemara, dan betisnya yang menyala-nyala di kaki senja. Tapi itulah yang menggerakkan kaki-kaki mereka untuk berkelana membuka daerah-daerah baru pertanian, pertambangan, dan perdagangan.

Politik belum ada waktu itu, sehingga tidak ada ketentuan yang mengatur kapan matahati harus terbit, dan di mana harus terbenam. Satu-satunya simbol kehidupan ialah perempuan itu sendiri, karena tubuh mereka adalah bumi. Itu sebabnya para lelaki senang bertawaf mengelilingi bumi, mencari pintu masuk ke dalamnya melalui rahim perempuan.

Bangsa-bangsa baru didirikan belakangan, setelah kaum perempuan mau membuka rahim mereka dan melahirkan konstitusi. Pasal-pasal perang dan perdamaian ditulis dengan huruf-huruf tebal di mulut rahim. Agar para lelaki tahu di mana mereka harus mati, jika politik tidak mampu memberi cinta dan kebahagiaan.

Harris Hotel, Sentul, Bogor
23 Februari 2019
IG: ahmadgaus68

Foto: Sebuah lukisan di Harris Hotel, Sentul

Read More »

PUISI HAMRI MANOPPO, KOTAMOBAGU - SUBUH INI AKU MENCARIMU

0 comments


PUISI HAMRI MANOPPO, KOTAMOBAGU

Subuh Ini Aku Mencarimu

di tafakur doa kucari dia
ingin kubagi rindu yang menggebu
mengingat yang dulu
sholat subuhku sendu
khusyuk bersyukur dalam tafakur

tundukku menyapu ukiran ubin, bayangmu
menatap sendu
tersenyum pilu

bibirku bergetar, doa doa berkibar lancar
air mata sedih
mengalir lirih
Kanda masih kucari

sakitmu di rumahku, berbulan mengeluh, menyimpan duka laraku
sungguh aku rinduh

fajar pagi menembus  celah jendela
angin sejuk melenggang sejuk, wajahmu menyusup masuk

diam, hening, irama zikirku menyapu wajahmu, senyumanmu
manis, sungguh manis

Kotamobagu, 01032019

Read More »