TAHLILAN: SILATURAHIM DAN KESAKSIAN



Tahlilan masih menjadi budaya Islam yang dikembangkan masyarakat muslim di daerah jalur pantai utara Jawa. Seperti tampak pada tahlilan wafatnya Nyai Hj Nurhidayah di Brangsong,  Kendal, Jawa Tengah (26/11). Nyai Hj Nurhidayah merupakan tokoh Bunyai Kampung yang menggerakkan pengajian di kampungnya, khususnya di langgar yang didirikan oleh keluarga K.H. Fuad Hasan. 
Tahlilan merupakan sarana umat Islam sekitar untuk bersilaturahim. Mereka berkumpul di rumah duka untuk menyampaikan rasa duka kepada keluarga. Mereka membacakan ayat suci seperti Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas,  Al Baqarah ayat 1-5, ayat kursi dan akhir surat Al Baqarah.  Selain itu juga dibacakan kalimat thayyibah atau kalimat tauhid yakni laa ilaaha illallah, kalimat tasbih yakni subhanallah, kalimat istighfar yakni astaghfirullah al adzim, selawat kepada nabi, dan sebagainya. Pembacaan ayat dan dzikir tersebut untuk menguatkan hati keluarga agar sabar dan tabah melepaskan kepergian almarhumah dengan ikhlas meski berat hati. Selain itu, pembacaan ayat dan dzikir tersebut dapat memberi peringatan bagi umat Islam yang mengikuti pengajian tahlilan agar selalu mengingat kematian, mengimani Allah, rasulullah, hari akhir, ghaib, dan juga qodho dan qodhar Allah Swt. Dengan cara demikian, umat Islam dapat terus menyegarkan dan memperbarui keimanan mereka di tengah kesibukan memikirkan dan mengupayakan kehidupan dunia. 
Pada sore hari, pengajian tahlil dilakukan oleh ibu-ibu muslimah yang merupakan para jamaah, tetangga dan teman serta keluarga besar almarhumah. Sementara pada malam hari, selepas shalat isya',  pengajian tahlil dilakukan oleh umat Islam yang laki-laki. Pada hari ketiga,  para jamaah membawa pulang bingkisan berkat berisi beras, gula, mie instant dan benda lain, sebagai tanda ungkapan bahwa almarhumah meninggalkan urusan dunia sebagai amal kebaikan dan bekal menjalani kehidupan di akhirat. 
Pengajian tahlilan berlangsung syahdu dan penuh haru. Mengingat almarhumah dikenal sebagai sosok yang baik hati. Selain rajin mengikuti dan menggerkakan pengajian di kampung seperti tahlilan, selawatan, semaan atau tadarus al qur'an keliling dari rumah ke rumah. Almarhumah juga dikenal rajin bersedekah seperti mencarikan beasiswa anak tetangga, membagi sarung, daster, mukena, kopyah, sajadah, dan sebagainya kepada para jamaah dan masyarakat sekitar. Setiap pengajian dan kegiatan lain masyarakat, almarhumah sering tidak sedia merepotkan masyarakat dan ditanggung sendiri penyediaan makan, minum, snack dan kebutuhan lain. 
Di kampung ini, tahlilan lebih dari sekadar pembacaan doa dan dzikir untuk almarhumah tetapi juga untuk para jamaah itu sendiri.  Sekaligus sebagai cara silaturahim masyarakat Islam yang menjadi bentuk kepedulian kepada keluarga duka atau bentuk sambungan dari takziah yang sudah dilakukan sebelumnya sehingga keluarga duka tidak menanggung duka sendirian. Pengajian tersebut juga dapat menjadi ajang kesaksian dan saling belajar bagi umat Islam setempat tentang kebaikan dan keteladanan amal sholeh selama hidup sebagai bekal kematian. 

Muhammad Thobroni, budayawan, tinggal di Kalimantan Utara