MAK: PUISI MUHAMMAD THOBRONI, TARAKAN



setiap anak
yang telahir dari rahimmu
ialah kunci surga

setiap tetes susu
saban hisap berhisab
ialah amalan senyap

Mak,
tak berhitung, tak berulang
setiap ocehanmu, tak layak bepulang

setiap belai
peluk cium dekap
ialah sumbu api saban betumbuh peradaban

Mak,
tak kemarau, tak hujan
kau bangun tak kenal saban

malam bangun
menengok air ketuban
dan esok bangun menengok bayi betangisan

malam bangun
menjenguk beompolan
dan esok bangun melongok popok bejemuran

Mak,
tak pernah kusaksikan
kapan kau nyenyak bebaringan

isuk hari kau jejali
mulut dengan sumsum
atau nasi sambal teri

tak lagi kau peduli
telah berapa kali putar
jam sarapan kau lewati

Mak,
terik matahari kau panggul daun jati
sebagai alas melukis hati

ranting-ranting kering
dahan-dahan patah
atau batu-batu kali untuk berkali berbagi

watu lawang yang sunyi
kedung cinet yang sufi
adakah menyimpan setiap pahalamu di dunia ini?

Mak,
pada saban akhir sanah
hati ini rasa rebah

tak sanggup tengadah
tak sanggup istiqomah
meniti shiratmu yang lurus dan kaffah

perjalanan ini masih
lebih rumit dari kelokan alas watu lawang
dan licin lumpur pelosok plandaan

bukan debu kemarau yang kutakut
bukan gelombang pasang yang aku ciut
bukan, hanya iman ihsan meradang kerut

Mak,
doa sepanjang kala itu
memang tak hanya ada pada lagu

doamu, doa qalbu
yang memanjat pada tahajudmu
yang merentang di antara doa dhuhamu

Allahummaghfirlii dzunubii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayani shaghiraa

2018

0 comments: