WASIAT PENTING AL-GHAZALI BAGI MANUSIA AKHIR ZAMAN


Oleh: K. H. Fuad Hasan

Dalam terjemah kitab Ihya' Ulumuddin (cetakan ke-19), Imam Al-Ghazali membuka tulisannya dengan beberapa wasiat penting. 
Pertama, Al-Ghazali memuji Alloh dengan pujian yang banyak, berturut-turut. Meski umat manusia hanya sedikit memujinya, menurut Al-Ghazali, tak akan mengurangi keagungan Alloh itu sendiri. 
Kedua, Al-Ghazali mengajak umat manusia bershalawat dan mengucapkan salam kepada rasul-rasulNya, shalawat yang merata kepada seluruh RasulNya, bersama penghulu umat manusia. 
Ketiga, Al-Ghazali memohonkan kebajikan kepada Alloh tentang kebangkitan cita-cita beliau untuk menulis sebuah kitab tentang "Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama" (Ihya' Ulumuddin). 
Keempat,  Al-Ghazali menantang umat manusia untuk memotong dan mengurangi kesombongan, khususnya bagi para pencela, yang suka melampaui batas pada kegiatan mencela, di antara orang-orang yang ingkar dan menolak nasihat kebenaran, yang senang dengan caci-maki dan melawan kebenaran, serta mereka yang lalai mencari kebenaran. 

Al-Ghazali menyatakan bahwa lidahnya tak akan diam dan kewajiban untuk bersuara menyampaikan kebenaran, kebenaran yang muncul dari kata-kata penuh hikmah, penuh mutiara kehidupan, untuk menyadarkan mereka yang terjebak kepada kebutaan terhadap kebenaran, kebodohan yang dapat mengabadi, serta kesukaan banyak orang untuk menebar fitnah kepada orang lain. Umat manusia akhir zaman perlu kembali kepada kebajikan, mendasarkan amal kepada ilmu dan kebermanfataan, karena mengharap ridho dan hanya berniat ibadah kepada Alloh semata.
Kunci utamanya yakni membersihkan hati dan mengajak hati menuju kebaikan. Agar umat manusia dapat menghindari usia yang sia-sia dengan melakukan amalan hidup tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Khususnya hal itu harus dilakukan oleh mereka yang berilmu, orang yang memiliki pengetahuan tentang kebenaran untuk bersuara dan memandu kehidupan bersama. 

"Manusia yang sangat menderita azab pada Hari kiamat ialah orang yang berilmu, prang alim, yang tidak diberi manfaat oleh Allih dengan ilmunya tersebut. "



0 comments: