PUISI SYAFRIZAL SAHRUN, MEDAN - "PEMABUK DAN PARA DEWA"


- untuk seorang kawan

Dengan kesadaran yang mabuk, ia lepaskan selongsong dirinya ke jalan.

Terhoyong-terhoyang mencelahi curam tebing dan tungku rindu  yang lama diranggiti gigil.

Tempatnya berpegang ditebang ego para pejuang. Ia pun mungkin ditafsir sebatang pecundang.

Tapi, entah kenapa deretan potret pahlawan yang ia yakini masih punya cinta untuknya, yang sampai sekarang masih ia tunggu belainya,  ia rapikan di dinding kalbu yang paling bengal.
Ia yakin bahwa langit dan bumi bukanlah perihal atas dan bawah. Melainkan satu kesatuan yang mustahil dicencang alirnya, sejuknya, juga sekaligus linu pedihnya.

Ia diseret arus ke putaran bermuda. Rumah dalam matamu paling sengsara.

Kenapa bukan tanganmu yang terjulur
Lembut meminta, lihai menepis radang yang membabi buta.
Melainkan gemulai lidahmu menyeretnya
Membiarkan ketelanjangannya disaruti mata yang tak mengenal warna selain abu dan hitam semata.

Pakailah kacamataku sekejap sahaja
Ada warna lain yang sebenarnya warna kau juga

#Percut, di pengkal tahun 2019

0 comments: