BERBINCANG DENGAN LANGIT TANPA TIANG



Oleh: Dian Garini Lituhayu, Guru di Samarinda, Kalimantan Timur


Menatapi Lintang Waluku di langit, rasi bintang yang paling awal kuperhatikan saat aku tiba di tanah barat Australia enam belas tahun yang lalu. Bentuknya di mataku seperti kotak dengan tiga bintik bersusun di tengahnya, penanda arah barat, penanda waktu bertanam di zaman purba dulu.

Mungkin bukan satu-satunya yang kuamati di langit, tapi jelas yang pertama yang menarik mata untuk kuamati sambil menyebar tanya di kepala, untuk apa mereka dicipta. Apa tugas mereka yang dituliskan oleh Penciptanya selain sebagai penghias langit yang terdekat dengan mata manusia.

Dari kursi-kursi dibawah pohon lemon, aku biasa memperhatikan langit dengan mengenakan jaket tebal dan segelas coklat panas di tangan. Bagiku hiburan yang menakjubkan, bisa mengamati langit dengan konstelasi bintang yang tegas dan terang, tanpa rintang. Langit belahan bumi selatan memang selalu cerah untuk menatapi bintang.

Di kesempatan lain mengunjungi ujung pulau Sumatera, mataku juga mencari bintang untuk kuajak bercanda sampai bersendawa, segelas kopi atau coklat mendampingi. Sesekali harus kuganti pandangan mata dengan bahan lainnya, karena langit ditutup asap dan awan.

Hampir semua kota di belahan dunia manapun kakiku berpijak, langit menjadi penarik jiwaku yang utama. Langit malam seringkali membawaku terbang pada suasana suatu zaman yang aku tak paham apa namanya tapi muncul sebagai pengingat saat jiwa tak damai. Menjadi pengetuk pintu pikiran untuk kembali ingat pada Dia Yang Menggenggam seluruh penghuni malam.

Mengamati benda langit selalu menjadi pilihan menenangkan hati, meskipun sempat beberapa kali terganggu penampakan lain yang tak mirip dengan bintang atau benda langit lainnya. Berbau horor yang mungkin menjadikan cerita tentang konstelasi bintang ini menjadi tak lagi seru. Bagaimana jadi seru jika penampakan itu berupa bola api besar melintas di langit gelap biru.

Menjelang pagi, bintang berkelipan di tempatnya mengirimkan makna baru untuk kurenungkan. Semua sudah diatur pada tempatnya. Semua sudah ada tatanannya. Tenggelam saat siang dan muncul kembali saat malam sesuai perannya masing-masing. Ada yang ditugasi berpijar saja, ada yang harus mati dan padam. Sudah ada waktunya.

Seperti aku, kamu, kita, dia, mereka. Sudah ada waktunya. Sudah ada tanggungjawab dan amanahnya masing-masing. Tetap berpendar cahaya tanpa harus memadamkan cahaya bintang lainnya.

Orion, langit berpemburu malam ini, membuatku menjadi perenung yang baik. Waktu sedemikian cepat berlalu, bintang yang kukerdipi di langit juga bertambah umurnya. Tak berniat tanggal dan jatuh menyerah ke bumi, karena Sang Pemilik Langit itu memerintahkannya untuk tetap menyala sampai waktunya tiba.

-- Ar Raad (2)
Dia-lah Yang Meninggikan langit tanpa tiang, sebagaimana yang kamu saksikan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Dia Yang mengatur segala urusan makhluk-Nya, menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, supaya kamu meyakini pertemuan(mu) denganNya.

0 comments: