Cerita Pendek "Meme" oleh Rendy Sipin, Kalimantan Utara

Ilustrasi : Rendy Sipin

MEME
    Meme begitu pendiam. Ia banyak menghabiskan waktu berdiam diri di rumah.  Anak berumur 12 tahun itu kini tidak suka bermain-main di luar seperti anak-anak kecil pada umumnya. Ia lebih memilih sendiri dalam kamar. Bukan berarti ia takut pada matahari yang bisa membuat kulitnya belang juga berbau. Tentu saja di kamar itu ada jendela kecil yang membebaskan cahaya masuk. Selain itu, sendiri bukan berarti sepi karena kamar itu menampilkan keramaian tak terkira. Bagaikan negeri dongeng. Ruangan itu telah disulap untuknya dan itulah yang membuat dia senang. 

    Meme sering mengurung diri dalam kamar. Dia jarang keluar. Tatkala lapar, ia tinggal memanggil ibu. Tatkala haus, ia cukup memanggil ibu. Pergi ke kamar mandi? Dia mesti berhati-hati. Kaki berjinjit, melangkah sekuat mungkin agar tak satu orang pun mendengar bunyi itu. Sebab ia tidak mau kaget kesekian kali, lalu bergegas menutup pintu ketika melihat orang tak dikenal. 

    Kebiasaan itu membuat orang tuanya harus melakukan sesuatu. Kebutuhan minum, kebutuhan bermain, bahkan kamar mandi akhirnya disediakan dalam kamar.

    Dia harus yakin bahwa hanya ayah, ibu dan penghuni rumah saja boleh melihatnya. Meme juga berhati-hati terhadap setiap panggilan. Biarpun itu berasal dari kedua orang tuanya. Seseorang yang memanggil harus menemuinya lebih dulu. Dimulai dengan mengetuk pintu. Bila terdengar, ia akan menjawab “siapa?” lalu tanya itu  disahut “Ini Ibu. Buka pintunya.” Ia kemudian memadamkan lampu, menutup jendela dan buru-buru berbaring menutup selimut hingga menyisakan sedikit celah bagi kedua matanya, “pintunya tidak dikunci bu.” Kemudian ketika gagang pintu berbunyi, maka ia semakin menutup pelan-pelan seluruh tubuhnya mengikuti suara pintu terbuka. Lantas, cahaya dari luar telah menyebar seisi kamar yang gelap. Ibunya tahu bahwa Meme sedang bersembunyi. Lampu dihidupkan. Selimut ditarik perlahan. Barulah ketahuan siapa yang mencarinya. Ia tersenyum mengetahui ada ibu duduk disampingnya.
“Sayang. Makanan sudah siap. ”
Waktu makan siang tiba. Ia mengulurkan kedua tangan tangan. 

    Seperti biasa, ia menunggu ibu keluar, barulah ia menyusul dengan terus memegangi baju ibunya. Bersembunyi di belakang. 

“Tenanglah. Tak ada siapa-siapa.”

    Meme menoleh kiri dan ke kanan. Pintu tertutup. Memang  hanya ada dia dan ibunya.  Kaki yang berjinjit, sementara ibu tetap seperti tameng baginya. Sampai di depan meja makan, barulah ia melepas pegangan itu.

***
    Empat tahun yang lalu, pada sebuah rumah dengan pintu tertutup, di kamar itu, tersimpan dunia luar. Laut biru yang menghampar luas dan airnya jernih. Gerombolan ikan-ikan bermacam jenis terlihat berenang bebas. Di angkasa, ikan-ikan mayung mengepakkan ekornya ditemani bintang-bintang. Ketinting kecil ikut melayang-layang akibat didayung oleh nelayan. Buaya-buaya sedang membuka mulut, memamerkan giginya yang sedang disikat. Seekor bebek mengikuti barisan anak ayam yang dipimpin induknya. Paruh-paruh kecil burung menyambut cacing dari paruh induknya. Pemandangan itu meramaikan dinding-dinding kamar Meme. Bermacam-macam makhluk. Bermacam-macam warna. Tapi semua menampakkan senyum. Tanda bahagia. Meme senang sekali betapa orang tuanya sangat sayang dan peduli kepadanya.

    Pada sebuah rumah dengan pintu tertutup, di depan teras tak jauh terdengar suara anak-anak sedang berlarian. Saling berkejaran ke sana ke mari. Saling melompat bolak-balik. Saling tarik menarik. Saling menyapa. Saling menyentuh. Keriuhan tercipta diwaktu Sore.

Samar-samar terdengar suara.

“Meme, Meme, Meme.”

“Ayo kita main.”

    Samar-samar Meme mendengar suara panggilan itu. Meme tahu tapi ia tidak menjawab. Dia enggan bersama mereka. Lebih nyaman di dalam kamar, batinnya. Kamar adalah tempat andalan. Ruang bermain meski tanpa ditemani anak kecil seusianya. 

    Sinar lampu yang mencurahkan cahaya berbentuk titik-titik kecil warna warni memberi cakrawala pada sebuah dinding, memecah kesunyian bagi penghuninya.  Hiasan itu, ornamen itu betapapun tidak bisa berbicara. Sementara Meme, juga jarang berbicara. Namun ia bukanlah orang bisu. Maka, untuk  mengatasi kebisuan itu, mereka dihidupkan. Merasuk setiap jiwa sesuai keinginannya. Dari  lukisan dinding sampai mainan berupa boneka dan alat-alat dapur pun tidak luput dari perhatiannya. Semua dapat bagian. Sebab mereka sudah dianggap kawan sekaligus keluarga sendiri. 

    Bermain peran. Kepada benda itulah Meme mengisi gerakan dan suara langsung olehnya.

Misalnya, bermain seputar demo masak.

    “Pertama, sediakan baskom, kemudian masukan air.  Lalu, ambil sayur-sayur ini dan ceburkan. Kita mencuci sampai bersih. Kenapa dicuci? Supaya kumannya hilang. Angkat dan ambil pisau. Potong-potong sayurnya dan masukan ke dalam panci yang berisi air tadi. Hidupkan api dan tutup pancinya. Setelah itu, mari kita tunggu cuma setengah jam saja.”

    Selain demo masak ada juga bercengkrema bersama boneka.

“Kamu, mengapa menangis?”

“Uhuk, uhuk, uhuk... mereka tak mau bermain sama aku.”

“Aduh. Kasihan sekali. Sudah-sudah jangan sedih. Ayok kita bermain bersama.”

    Peristiwa  itu terekam di mana ibunya kebetulan melintas, mendengar anaknya berbicara. Karena penasaran, ia sengaja menguping di balik pintu. Bahwa Meme sedang bermain. Bahwa Meme suka dengan pemberian ibu. Bahwa Meme punya naluri bercerita. Bahwa bakat itu diturunkan kepada anak semata wayangnya. Kenangan itu dirasakan sejak Meme masih delapan tahun. Ibu dan ayah tidur disampingnya. Mereka satu kamar. Pagi, siang, hingga petang, malam, harus siap sedia mengurus segala kebutuhan. 

    Meme juga perlu ritual khusus yaitu suguhan cerita-cerita dongeng. Segala buku dongeng disiapkan. Dari dongeng mancanegara sampai dongeng lokal. Dari si cantik dan si buruk rupa, bebek buruk rupa, cinderela, kancil mencuri timun, dan si Batang Hanyut. Segala isi dongeng dibacakan

    Satu demi satu buku itu selesai dibaca. Sementara Meme butuh cerita baru. Orangtuanya mulai berpikir. Sementara buku-buku memuat dongeng lama. Meme sudah tak sabar. Meme menangis. Akhirnya mereka punya ide, yaitu menceritakan pengalaman masa kecil. 

    Sebuah cerita tentang masa kecil ibu yang disembunyikan oleh Indalau si Makhluk halus yang suka dengan anak-anak, menyembunyikan anak-anak.

    Mereka pun mengatur mimik wajah dan suara. Ketika sudah siap, kisah pun dimulai.

    “Sinar matahari semakin hangat. Tanda senja tiba. Waktu yang tepat bagi anak-anak kecil bermain dilapangan. Lapangan itu dikelilingi pohon-pohon yang lebat. Waktu kecil, Ibu bersama kawan-kawan bermain di sana. Ada banyak permainan. Kebetulan kami sedang bermain sembunyian. Ibu dan kawan-kawan mencari tempat. Kami pun bersembunyi. Hanya satu kawan Ibu yang tidak bersembunyi. Karena ia harus menemukan kami. Di balik batu, di balik pohon, dan di balik gundukan tanah kami bersembunyi.  Akhirnya kawan-kawan Ibu semua ketahuan, kecuali ibu. Karena itu, akhirnya  ibu dicari beramai-ramai. Sampai-sampai hampir satu kampung semua menyebut-nyebut nama Ibu. Padahal ibu tidak jauh dari mereka. Bahkan dari tadi ibu sudah berteriak dari balik pohon yang lebat. Mereka tak mendengar. Ibu juga melambaikan tangan sambil teriak-teriak. Semua orang, semua nama pun ibu sebut tapi tak seorang pun yang mendengar. Ibu pun menangis dan orang tua ibu juga menangis. Kami sama-sama sedih. Ibu bisa melihat mereka. Ibu bisa mendengar mereka. Tapi mereka tak bisa melihat dan mendengar suara ibu.”

    Ibu yang bercerita sambil memerankan orang menangis membuat mata Meme berkaca-kaca. Cerita dilanjutkan

    “Keajaiban pun datang. Menjelang malam, ibu bisa ditemukan. Ibu ditemukan di balik sebuah pohon. Oleh orang pintar mengatakan kalau ibu sedang disembunyikan Indalau, si makhluk halus. Makhluk itu suka dengan anak-anak. ”

    Cerita usai. Meme memeluk ibunya. Menangis ketakutan bila ibunya disembunyikan makhluk halus itu.
Sejak saat itu Meme tidak mau lagi mendengar cerita.

***
    Matahari meninggi menyentuh rumah-rumah. Jendela dan pintu-pintu dibuka. Hanya rumah Meme yang pintunya masih tutup. Rupanya di teras rumah, ibunya sedang menyapu. Kemudian, ibu-ibu rumah tangga lainnya keluar. Sambil menunggu  mengerumuni pedagang sayur, mereka mulai bertegur sapa. Tidak terkecuali ibunya Meme.

Terjadi percakapan bersama tetangga. 

“Anak ibu sungguh betah, ya. Beda dengan anak saya.”

    “Meme memang anak rumahan. Kalau Nuni, lupa waktu. Tidak siang, tidak malam pokoknya keluyuran terus.”

    “Apa lagi anakku, jarang pulang. Begitu berkabar, eh malah saya langsung ke kantor polisi. Seteres saya dibuatnya.”

“Astaga. Serius bu?”

    “Beneran Bu. Sumpah. Heran saya. Sudah disekolahkan betul-betul, malah nasibnya jadi begitu. Dasar kelakuan anak-anak.”

    “Tapi syukurlah anak ibu tidak terpengaruh. Tidak sekolah tapi baik-baik saja. Soalnya pergaulan sekarang makin aneh-aneh saja. Bikin pusing.” Ujar tetangga pada ibunya Meme.

Ibunya Meme tersenyum kecut.

    “Bu, apa kabar si Meme. Sudah lama sekali tak melihatanya.”

“Iya bu. Hampir empat tahun. Terbayang-bayang bagaimana anak perempuan itu tumbuh.
Ibunya Meme membalas dengan senyum.

“Kok malah senyum bu. Ayo jawab?”

“Nanti. Suatu saat nanti Meme berjumpa dengan Ibu-ibu.”

    Percakapan itu terhenti karena bunyi klakson pedagang sayur datang mendekat. Seketika kerumunan berpindah.

***
    Pada sebuah rumah dengan pintu tertutup. Di dalam kamar masih tersimpan dunia luar. Menginjak usia ke 12, seperti biasa Meme sering berdiam diri, mengurung diri dalam kamar.  

    Ibu yang dari tadi bersamanya mengungkapkan sesuatu.

    “Apa kamu tidak ingin berada di luar sana?”

    Meme hanya mendengar, tapi tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia asyik membalik-balik halaman buku.

“Kamu tidak capek begini terus?”

Meme masih membisu. 

***
     Hingga suatu malam, di dalam kamar hanya  ada Meme dan ibunya. Kebetulan kali ini ia ingin sebuah cerita. Sebuah dongeng pengantar tidur. Sebuah cerita yang sempat membuatnya ketakutan dan telah lama tak terdengar.

   Kepada ibunya, ia memintanya untuk menceritakan kembali dongeng makhluk halus yang suka dengan anak-anak dan menyembunyikannya. Permintaan itu dituruti.

    Cerita usai tapi ia belum juga tidur. Bukannya takut, melainkan ada sedikit rasa gelisah membuatnya penasaran. 

    Oleh karena itu kali ini ia kembali berbicara. Sebuah tanya.

“Bu.”

“Iya. Apa. Apa nak?”

“Aku ingin bermain di luar besok.”

Ibunya kaget namun hatinya mulai senang.

    “Kamu serius? Ibu setuju. Sudah lama kamu tak bergaul dengan anak-anak di luar.”

“Tidak bu. Saya cuma ingin bermain dengan makhluk halus itu. Boleh kan?”

Ibunya tambah kaget.***


Keterangan :
Ikan Mayung : jenis ikan air asin yang bentuknya mirip ikan lele.
Indalau : Makhluk mitologi Suku Tidung, Makhluk Halus yang suka dengan anak-anak bahkan menyembunyikan anak itu ke alam lain.

Sembunyian : Permainan anak-anak yang dilakukan dengan cara sembunyi sementara satu orang mencarinya.

Rendy Sipin, adalah pemuda Kalimantan Utara. Pernah menulis essay, puisi, dan cerpen. Merupakan alumni Majelis Sastra Asia Tenggara 2018.
Email : rendyadityap2@gmail.com



0 comments: