MENJADI PEMAIN



Oleh: Rahmadina - Pegiat Literati Perbatasan di Kalimantan Utara, mahasiswa Pascasarjana UM


Menjadi Pemain

Mungkin banyak alasan dan faktor setiap orang akhirnya memulai untuk menulis. Sama halnya dengan saya.  Kurang lebih lima tahun lalu, hobi nulis kata-kata, sebait dua bait, cerpen dan opini yang kemudian disave begitu saja dilaptop atau di post dimedsos, gak nyangka tahun ini akhirnya bisa dipungut lagi dan bisa diterbitin. Tema yang ditulis juga bebas saja, pokoknya apa yang muncul dikepala itu yang ditulis. Karena terkadang banyak hal yang biasa ingin kita sampaikan tapi tidak semua orang bisa menerimanya dengan baik dan sesuai dengan yang kita inginkan. Nah, salah satu caranya bagi saya untuk meluapkanya adalah dengan cara menulis. Seperti buku saya yang pertama berjudul Setumpuk Rasa Cuek ini. Antalogi puisi yang saya tulis untuk alm bapak saya. Banyak hal yang ingin saya sampaikan pada beliau tapi sulit mungkin karena malu, tidak terbiasa  atau tidak berani jadi saya tuangkan ke dalam kata-kata. Penasaran gak sama bukunya. Buruan pesan sis/gan hehehe. (seklian promosi)
Oke next. Mungkin faktor yang kedua adalah karena kalimat ini “Orang tuh jangan kelamaan jadi penonton sesekali jadi pemain dong! Mencoba untuk mengartikan sendiri maksud dari kalimat itu. Kalimat itu sering diucapkan senior pada saat diskusi atau cerita santai dibascame dulu. Entah apa maksud dari kalimat ini. Mungkin saja itu adalah kalimat penghibur ketika ada senior yang lagi patah hati alias kena sleding say. Tapi percaya deh dari kalimat itu yang katanya anak zaman sekarang itu receh, merupakan salah satu motivasi saya untuk ingin jadi pemain dalam senyap. Asyiap…
Jadi gini, awalnya nulis  itu cuma untuk konsumsi pribadi saja belum ada niat untuk jadikan buku terus nerbitin. Semakin kesini saya justru banyak kedatangan inspirasi dari orang-orang sehobi. Mula-mula kepoin sastrawan atau teman-teman yang sudah pernah nulis dan terbitkan buku. Kelihatannya kok enak ya. Yasudah, saya juga mulai mencoba dan fokus untuk cari referensi bacaan yang bisa membuat saya lebih percaya diri dan lebih matangkan niat untuk memulai menulis. Maklum melawan diri sendiri itu sebenarnya lebih sulit. Gimana untuk talk positif  ke diri sendiri terus menerus saya lakukan. “ pasti bisa”, “coba aja dulu siapa tahu banyak yang suka, “persoalan jelek bagusnya serahkan saja sama yang baca”, “kalau bukan sekarang, kapan lagi”, “jangan mencari alasan untuk menghindar” dan lain-lain. kalimat itu selalu saya ucapkan dalam hati biar saya terus termotivasi untuk terus semangat menulis dan percaya diri.
Jauh sebelum ini saya belum tahu sebenarnya passion saya dimana dalam menulis. Makin kesini baru sedikit ada pencerahan gitu. Misal nih, kalau buat puisi, sehari itu saya bisa dapat dua sampai tiga puisi dan coba untuk lepas dari puisi. Coba-coba nulis cerpen, jadi sih, tapi kurang puas saja sama hasilnya. Hingga akhirnya saya tahu kalau passion saya kayanya lebih ke puisi. Jujur saja pengalaman saya di bidang menulis bisa dikatakan sangat minim, tapi menurut saya modal yang perlu dimiliki penulis adalah keterampilan menulis dan kemampuan memperhatikan. Keterampilan menulis bisa diperoleh dari seringnya menulis. Practice makes better! Silahkan kalau ingin mengambil kursus menulis atau tidak, tapi yang pasti sering-seringlah menulis. Saya sendiri belum pernah kursus menulis atau mengikuti workshop menulis, tapi saya tidak menyerah pada sulitnya membuat karya tulis. Disini menurut saya sangat penting bagi penulis untuk mengasah sensitivitas hati dan pikiran. Caranya adalah dengan menangkap “makna” pada setiap kejadian dalam kehidupan. Sebuah karya akan dianggap “dalam” dan tidak “dangkal” pada saat karya itu menyentuh satu sisi di kehidupan.
Hal terpenting bagi saya, yang saya sukai dari kegiatan menulis ini adalah kesempatan untuk berbagi kebaikan dengan para pembaca. Selama proses penulisan bahkan sampai sekarang, saya selalu berdoa agar saya diberi kemampuan untuk membuat buku yang “bermanfaat” bagi para pembacanya. Bukan berarti saya harus membuat sebuah buku Motivasi, tapi saya akan sangat senang jika pembaca tulisan saya bisa mengaplikasikan hal-hal yang saya tulis di buku itu dalam kehidupan keseharian mereka. Oleh karena itu saya kedepan saya akan membuat buku yang masalahnya sebisa mungkin dekat dengan realita. Dari situ, “manfaat” membaca buku saya akan terserah kepada pembaca itu sendiri, bagaimana pembaca menafsirkan dari setiap kata yang dibaca.
And last but not least, saya mau memberikan saran untuk teman-teman kushusnya pemuda  yang kurang percaya diri dan baru mau memulai menulis rajinlah membaca buku yang paling kalian suka dan mulailah menulis apa saja yang ingin kalian tulis. Itu utama! Teori yang lain bisa bertambah seiring perkembangan pengalaman dan pola pikir manusia. Namun “passion for writing” harus tetap dijaga. Selanjutnya menulislah dari hati. Bukan untuk orang lain, tapi buat diri sendiri. Kalau kita yakin bahwa kita sudah menghasilkan karya tulis yang bagus, maka Insya Allah orang lain yang membacanya juga turut yakin akan hasil kita itu. Tapi hati-hati, jangan sampai rasa yakin yang begitu besar membawa kita kepada sikap sombong. Tetaplah rendah hati dan membuka diri atas berbagai kritik dan saran, bahkan mungkin penolakan sekalipun. Tetap semangat menulis dan memperbaiki diri. Karya tulis adalah sebuah produk seni, yang pada akhirnya tergantung  pada selera masing-masing orang yang menikmatinya. So, nikmati saja prosesnya. Last and most important, selalu berdoa kepada Allah SWT maha pemberi Ilmu agar selalu diberi pikiran yang terang dan ide yang cemerlang.

0 comments: