MUSLIMAH MILENIAL TANGKAL HOAX



Oleh Zulva Zannatin Alia, Pegiat Perempuan, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang


Fenomena ujaran kebencian dan marak beredarnya informasi palsu menjadi trending topic permasalahan di negeri ini. Berita yang diolah melalui sumber yang tidak utuh kemudian disebarkan melalui media internet, dibaca setengah-setengah, dipercayai penuh, kemudian ikut menyebarkannya disertai dengan narasi-narasi fitnah dan ujaran kebencian. Kondisi mentalitas bangsa yang demikian seolah menegaskan bahwa data tingkat minat baca masyarakat Indonesia yang berada di posisi terbawah adalah benar adanya. Keengganan untuk membaca menyebabkan keengganan untuk berpikir kritis, sehingga informasi yang masuk akan sangat mudah ditelan mentah-mentah kebenarannya tanpa melewati proses telaah berpikir dan verifikasi fakta. Kondisi ini apabila dibiarkan berlarut-larut akan mengakibatkan perpecahan, adu domba, dan fitnah semakin merajalela.
Hal tersebut tentu tidak diinginkan terjadi di negeri Indonesia yang aman dan damai ini.  Muslimah milenial memiliki peran yang signifikan untuk membantu menangkal hoax agar tidak semakin berkembang. Beberapa hal berikut bisa dijadikan langkah awal untuk menangkal hoax.
Pertama, menghilangkan prasangka. Awal dari gerakan menangkal hoax adalah memastikan diri kita sendiri terbebas dari prasangka-prasangka negatif atas suatu tokoh atau sumber berita. Prasangka menempatkan kita berada pada penilaian yang subjektif terhadap peristiwa yang terjadi sehingga akan mempengaruhi tindakan kita selanjutnya. Penelitian Anastasia menyebutkan bahwa akar dari konflik agama atau etnis bermula dari hal kecil berupa prasangka. Dalam kasus hoax, seringkali seseorang menyebarkan berita berdasarkan tingkat kesepahaman bukan berdasarkan kebenaran isi berita. Oleh karenanya, mulailah dari berpikir positif, menghilangkan prasangka, dan meniadakan stigma.
Kedua, membaca secara utuh. Seringkali sebuah headline berita sengaja dibuat hiperbola daripada kejadian yang sebenarnya. Imbasnya, bagi pembaca yang tidak terbiasa membaca, tentu akan berhenti hanya sampai pada judul berita, sementara isinya yang paling penting justru terlewatkan. Penyebaran hoax seringkali diakibatkan karena penyebarnya tidak membaca berita secara keseluruhan sehingga berita yang dibaca tidak ditelaah terlebih dahulu. Oleh karenanya, penting untuk dimiliki keterampilan berpikir kritis. Muslimah millenial dengan keterampilan critical thinking yang bagus, tidak akan menelan mentah-mentah informasi yang masuk. Ia akan mulai dengan membaca secara utuh, kemudian menelaahnya dengan berpikir kritis terhadap isi bacaan, dan melakukan tabayyun atau verifikasi.
Ketiga, saring sebelum sharing. Hindari konten-konten berita yang memuat ujaran kebencian. Biasakan untuk selalu menyaring berita sebelum dibagikan kepada publik. Berita yang dibagikan hendaknya memuat konten-konten yang bermanfaat, meningkatkan persatuan, menambah wawasan dan pengetahuan, serta berbagai hal positif lainnya.
 Ketiga hal tersebut dapat diterapkan kepada diri sendiri sebagai tonggak awal berhenti beredarnya informasi palsu. Sebagai upaya tindak lanjut, muslimah millennial dapat membuat program-program yang mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mencegah pembuatan dan pengedaran hoax. Misalnya dengan membuat pelatihan berpikir positif, berpikir kritis, dan memasyarakatkan literasi agar tingkat minat baca tulis berkembang. Beredarnya hoax dimulai dari prasangka, diikuti oleh rendahnya minat baca, ditambah dengan ketidakmampuan berpikir kritis, dan tidak adanya proses verifikasi. Maka, untuk mencegah hal tersebut mulailah dengan berpikir positif dan banyak membaca. Jika hoax dibuat oleh orang pintar namun jahat, dan disebarkan oleh orang baik namun bodoh, maka kita bisa memilih untuk tidak menjadi keduanya. Kita, muslimah millennial adalah generasi yang optimis, penuh percaya diri, selalu tebarkan hal baik dan positif, serta cukup pintar untuk tidak ikut menyebarkan hoax.


0 comments: