PENELITI: SETIDAKNYA ADA 6 ALASAN PENTINGNYA RUU PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL



(Batimbang, Jakarta)  - Peneliti masalah kekerasan terhadap perempuan dari Jakarta, Siti Aminah, menyatakan setidaknya ada 6 (enam)  alasan penting agar Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS)  segera dibahas dan disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
"Alasan pertama yakni untuk melaksanakan sila ke 2 Pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena kekerasan seksual bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan sebagai bangsa kita berkewajiban memulihkan harkat dan martabat kemanusiaan korban agar pulih seperti sedia kala, juga memulihkan pelaku untuk kembali menghargai dan menghormati nilai nilai kemanusiaan dirinya dan orang lain, "ujar Siti Aminah.
Peneliti kekerasan terhadap perempuan, Siti Aminah, juga menyatakan bahwa RUU PKS untuk memenuhi hak konstitusional warga Negara diantaranya hak untuk bebas dari rasa takut, tidak didiskriminasi, bebas dari penyiksaan, hak atas hidup dan hak atas tumbuh kembang sebagai perempuan baik di ranah domestik maupun publik.
"Alasan ketiga yang juga sangat penting ialah tingginya jumlah kasus kekerasan seksual di Indonesia dan terdapatnya bentuk-bentuk kekerasan seksual yang belum diatur dalam peraturan perundangan-undangan kita," ungkap Siti Aminah. Dia menandaskan bahwa tidak memadainya pengaturan kekerasan seksual dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada, jika dibandingkan dengan pengalaman korban. Demikianpula Sistem Peradilan Pidana yang tidak berpihak kepada korban. Selain itu, RUU PKS mendesak untuk disahkan dengan pertimbangan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan terkait hukum pidana dan viktimologi yang belum diadopsi dalam peraturan perundang-undangan, maupun cara kerja aparat penegak hukum.
"Bangsa Indonesia berhutang kepada perempuan untuk menghapuskan kekerasan seksual sebagaimana janji terhadap perempuan  ketika berperan aktif dalam memerdekan bangsa Indonesia, " tegas Siti Aminah mengingatkan masyarakat agar kritis terhadap propaganda negatif terhadap perempuan.
(Batimbang.com)

0 comments: