PENELITI UNIVERSITAS AIRLANGGA: MENTAL ASN DAN POLARISASI MASYARAKAT YANG MEMPRIHATINKAN


(Batimbang, Surabaya)  - Hasil survei sebuah lembaga survei pemilu menengarai Aparat Sipil Negeri (ASN)  lebih cenderung memilih pasangan petahana Jokowi daripada penantangnya, Prabowo, dalam pemilihan presiden 2019 mendatang. Tengara hasil survei tersebut kontan memancing prokontra di tengah masyarakat terlebih muncul peristiwa Menteri Komunikasi dan Informasi RI yang dianggap intervensi pilihan politik ASN dengan ungkapan yang dipelintir netizen #Yanggajikamusiapa?
Polemik posisi ASN dalam preferensi politik pilpres 2019 semakin ramai di dunia maya.  Ada yang menuduh bahwa ASN lebih cenderung memilih pasangan penantang disebabkan mereka tidak mau berubah dan cenderung nyaman dengan posisinya saat ini.
Peneliti Sosial Budaya dari Universitas Airlangga punya pendapat unik terkaut prokontra pilihan politik menjelang pilpres. Menurutnya, prokontra politik ialah hal yang wajar. Dan merupakan hak pribadi termasuk ASN. Namun, tuduhan terhadap ASN yang masih ada bermental tidak pro perubahan mendapatkan keprihatinannya.
"Anggapan masyarakat masih banyak ASN yang tidak mau berubah itu menjadi krprihatinan kita bersama termasuk kritik untuk saya pribadi sebagai ASN.  Memang bila diperhatikan, yang paling banyak menghambat perubahan di negeri ini adalah mentalitas, " ujar Dr.  Listiyono Santoso,  Peneliti Universitas Airlangga (Unair)  Surabaya. Listiyono mencontohkan,  Mochtar lubis dan K. Bertens merupakan dua pemikir penting yang membaca situasi probelmatik semacam itu.  "Dan mentalitas yang paling banyak menghambat adalah mentalitas ASN. Yang sesungguhnya adalah pelayan publik dan abdi (bagi) negara,  selalu memosisikan diri sebagai priyayi, yakni menempatkan dirinya sendiri sebagai elit di tengah publik, " ungkap Dr.  Listiyono.  Ditambahkan oleh pengamat sosial tersebut,  banyak sorotan dari masyarakat terkait gaya hidup ASN yang kadang melampui profil hidupnya. Di tengah amsyarakat misalnya mulai ada sorotan bahwa gaji ASN itu sangat mudah dihitung dengan kalkulator. Karena semua penghasilannya dari APBN/APBD yang masuk rekening dan elas nominalnya.
"Nah, mungkin sebab itulah ada masyarakat khususnya netizen yang mulai ceriwis sekarang ini menuduh ASN di negeri ini memang selalu mendapat kenyamanan, bahkan termasuk memperkaya diri dari banyak aktivitas dalam lingkungan kedinasannya di hampir semua rezim. Sebenarnya bukan hanya resim sejarang tapi semua rezim.  Nah, kelompok-kelompok inilah yang mungkin dituduh netizen sering menghambat perubahan. Mereka beranggapan  dirinya adalah elit publik, jadi mereka susah diatur untuk secara profesionalitas mengabdi. Nah, banyak kritik disampaikan agar saatnya ASN berubah, dan kritik ini juga berlaku untuk saya pribadi, " tegasnya.
Peneliti Unair tersebut juga menyesalkan polarisasi yan tengah masyarakat yang telah menyebabkan disintegrasi sosial.  "Mungkin andaikata Jokowi dan prabowo tidak jadi calon presiden, pujaan dan cacian apalagi yang dimunculkan. Baik yang memuja dan mencaci itu saya meyakini mereka tidak punya cukup referensi tentang keduanya," ujar Dr Listiyono sedih melihat kondisi masyarakat.
Dr.  Listiyoni mengingatkan bahwa tidak ada partai politik yang ikhlas mencalonkan kader partai lain,  apalagi dengan track record ideologis yang berseberangan secara tajam. "Model perkawanan seperti ini sangat  rapuh, saat ini terlihat menguat karena punya target politik sama,  pasca itu? Ya kembali pada habitat masing-masing. Apalagi para pendukung fanatik dan dogmatis," ujarnya mengingatkan masyarakat agar tak terjebak polarisasi.
Peneliti Unair tersebut menekankan pentingnya inti Phronesis Aristotelian yang menyatakan bahwa keutamaan (virtue) bukan didapati dari pengetahuan, melainkan dari kebiasaan yang baik. Artinya, orang yang memiliki pengetahuan yang baik belum tentu menjadi orang baik. Orang yang memiliki pengetahuan tentang kebijaksanaan juga belum tentu menjadi bijaksana. "Dalam konteks kekinian, kebangsaan Indonesia kita (justru banyak) dirusak oleh banyaknya pengetahuan tentang keindonesiaan kita. Korupsi dilakukan justru karena ia punya pengetahuan tentang bagaimana (harus) korupsi, " tegasnya.
Menghadapi tahun politik yang keras dan kacau informasi seperti sekarang,  Dr Listiyono menyatakan bahwa tahun politik memang riuh rendah,  dan dirinya pesimis kegaduhan ini akan selesai pasca pemilu 17/4/2019. "Ini seperti kelanjutan yang tiada akhir dari pertarungan politik elit politik yang dibawa ke pertarungan antar pemilih." ujarnya prihatin.  (batimbang.com)


0 comments: