PMII BULUNGAN KECAM SIKAP REPRESIF APARAT POLISI DI ERA DEMOKRASI


(Batimbang, Bulungan)  - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)  Cabang Bulungan, Kalimantan Utara,  bersikap keras terhadap sikap represif aparat polisi terhadap peserta aksi rapor merah kota balikpapan. Dikabarkan, beberapa peserta aksi terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Didi Kadarisman, Ketua Umum PMII Bulungan, menyayangkan sikap aparat polisi yang represif di era demokrasi. "Demokrasi ialah hak rakyat dan telah diperjuangkan agar wujud menjadi nyata, " tegas Didi bersuara.
Menurut Ketua Cabang PMII Bulungan,  demokrasi yang ada pada hari ini orientasinya hanya untuk kepentingan penguasa saja. Hingga mengasingkan hak rakyat untuk terlibat dalam merumuskan apa yang baik dan penting bagi kehidupan semua. "Namun perampasan demokrasi justru bertambah dengan represifitas dan tindakan intimidasi yang dilakukan pihak aparat kepada rakyat dan seluruh elemen masyarakat yang berjuang untuk hak demokrasinya kemarin Senin, 11 februari 2019. " ungkapnya prihatin. 
Ditambahkan oleh Didi, penghambatan hak bersuara, intimidasi sampai pemukulan yang terjadi dalam aksi-aksi rakyat bukan hanya merupakan tindakan anti demokrasi tetapi juga kejahatan kemanusiaan.
"Aksi Rapor Merah untuk kota Balikpapan dalam menyambut ulang tahun ke-122 Tahun mendapatkan tindakan represif dari aparat yang memukul mundur seluruh demonstrasi. Aksi yang digelar oleh kelompok cipayung kota Balikpapan ( PMII , HMI , GMKI, GMNI ) menimbulkan korban represif puluhan Mahasiswa. Dan salah satunya adalah Ketua Cabang PMII Balikpapan  Sahabat Sainudin dan 2 orang kader PMII Balikpapan sahabat ardiansyah dan hermansyah terpaksa dilarikan ke RS Bhayangkara untuk mendapatkan pertolongan medis akibat direpresif oleh aparat yang tidak bertanggung jawab hal serupa juga terjadi dengan 9 korban lainya, " tutur Ketua PMII Bulungan. 
Bagi Didi,  tentunya tindakan tersebut tidak bisa dimaafkan atau pun ditoleransi. Dari pola pendidikan di kalangan oknum polisi yang mengunakan sistem satu komando, yakni pendidikan yang bersandarkan pada hal-hal feodal, kekerasan, dan tidak berorientasikan pada perlindungan dan pengayoman rakyat. (batimbang.com)


0 comments: