SUFI SEHARI-HARI



Ada banyak pengalaman spiritual yang membuat orang takjub, pada dirinya atau orang lain. Takjub itu sendiri kemudian menjadi hijab bagi dirinya, kesadaran terbungkus pada kesadaran saat itu saja, dan membuatnya lupa pada perihal yang lain.

Al-Qusyairi menjelaskan sikap al-Wasithi yang menegur sekelompok salik, "Hendaknya mereka menjaga diri dari posisi takjub yang membuat mereka, bukannya menaiki maqam yang semestinya, malah mengarah ke penyimpangan atau menyiratkan keteledoran. Yang demikian menandakan cacat dalam adab.

Dalam wacana pengalaman spiritual para sufi ada yang dinamakan maqamat (jamak dari maqam) dan ahwal (jamak dari hal). Maqam adalah posisi atau kedudukan spiritual yang bersifat tetap dan berjenjang, sedangkan hal adalah keadaan tertentu yang bersifat sementara--seorang syekh bahkan mengatakan kondisinya seperti kilatan, sebentar menempati kalbu lalu hilang.

Namun ada hal yang bersifat menetap, "terpelihara" dalam diri seseorang, naik secara lembut ke tahap ihwal seterusnya. Seseorang seperti ditarik (jadzbah) ke dalam kesadaran spiritual yang terisolir dari lingkungan sekitarnya. Sikap dan keadaannya menjadi aneh bagi yang lain.

Dalam pandangan tasawuf manusia memang bukan sekadar struktur badan dan bangunan yang jelas terindera, namun juga terdiri dari kesadaran ruhaniah yang tak hanya bersifat psikis namun lebih dalam lagi. Spiritual atau maknawi. Makna juga berkaitan dengan kesadaran intelektual sekalian imajinal (khayali).

Dalam perbincangan sehari-hari mungkin kita pernah mendengar seseorang tiba-tiba membuka pembicaraan tentang hakikat diri. Dulu di depan gang Setia Kawan Kelayan saya sering mendengar pernyataan seperti itu, yang bicara paman sendiri. Yang lain lalu menimpali. Persis, seperti timpakul yang melompat dari batang ke dahan atau kaleng kosong yang mengapung dan, bila salah lompat, tenggelam.

Ada juga orang yang merasa sampai pada maqam-maqam tertentu dan puas dengan keadaannya karena orang-orang menerimanya pada kondisi itu. Istilah "sampai" itu sendiri menakjubkan. Hijab yang membatasi, seperti tirai tipis yang membuat kita menebak-nebak gadis cantik di balik tirai yang tengah "dirindui".

Kilatan-kilatan praduga itu adalah khawathir (jamak dari khatir) yang adakalanya membingungkan. Al-Qusyairi memberikan rambu-rambu, bila bisikan (khatir) itu sesuai dengan pengetahuan maka ia datang dari malaikat. Jika mengundang kemaksiatan, ia datang dari setan. Dan jika mengajak pada menuruti syahwat atau takabur, ia datang dari nafsu. Dan jika datang dari al-Haqq, sama sekali si hamba tidak dapat menentangnya.

Namun dalam kondisional tertentu yang demikian di atas tak mudah membedakannya, apalagi ia seorang awam. Tahukah ia tarikan nafsu, waswas manusia dan setan, ilham para malaikat?

Saya pribadi tak tahu. Dalam kondisi kita mengayuh perahu di sungai yang panjang, adakalanya tarikan arus begitu kuat sehingga kita berjuang sedemikian rupa, dan adakalanya arus tenang melenakan kita lalu sabetan buntut buaya menjatuhkan kita. Tenggelam, hilang, cacat dalam adab yang sesungguhnya.

Bertanyalah pada guru yang tulus, karena para sufi bilang seorang salik yang tak berguru maka setan-lah gurunya. Berselawatlah pada baginda Rasul, berselawatlah. Sungguh Allah sebaik-baik pemberi pertolongan.

HAJRIAN SYAH, budayawan Banjar Baru, Kalimantan Selatan

0 comments: