SUGIARTI, HIJRAH POLITIK DAN PENDIDIKAN ERA MILENIAL


(Batimbang, Depok)  - Perjalanan manusia sering tak dapat ditebak, meski telah dirancang sedemikian rupa. Termasuk urusan hidayah Tuhan. Contoh nyata dari fenomena tersebut dapat ditemukan pada Sugiarti, mantan aktivis dakwah kampus selama kuliah yang pilih hijrah politik menjadi pegiat dan caleg partai nasionalis. Banyak orang menduga, sebagaimana para senior murobbinya di kegiatan liqo dan taklim, Sugiarti dibayangkan akan menjadi daiyah atau setidaknya terjun politik di partai dakwah. Tapi, perjalanan hidup dan pengalaman berjumpa banyak orang serta peristiwa yang beragam membuatnya terbuka pikiran dan hati serta menemukan kesadaran baru terkait banyak hal. Termasuk pilihan politik di kala dewasa. Saat ini lulusan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta tersebut  maju sebagai caleg PDIP untuk DPRD Jawa Barat dari daerah pemilihan Depok dan sekitarnya.
Namun, di antara kesibukannya selama ini, mengajar dan aktif di dunia pendidikan ialah panggilan jiwanya yang sejati.  "Mengajar kelas karyawan, misalnya,  buatku sangat menyenangkan, meskipun mereka sibuk bekerja dari Senin sampai Jumat tetapi semangatnya sangat luar biasa untuk belajar sepanjang hari di hari sabtu. seperti saya aya mengajar kelas English for Academic Purposes untuk Mahasiswa Manajemen, " ujarnya berkisah. Sugiarti memang lulusan program studi Pendidikan Bahasa Inggris.
Meski sangat sibuk kampanye dan kegiatan sosial, plus kegiatan rutin mendidik, ia juga merespon beberapa peristiwa sosial kontemporer.  Misalnya kasus musisi Ahmad Dhani yang dijebloskan ke penjara dan nasib istri keduanya, Mulan Jamila.  "Karena kurang nonton tipi, aku baru kemarin saja sih melihat tampilan baru Mulan Jamilah. Ya mudah-mudahan saja hijrahnya Lillahita'ala. Karena sangat remeh banget kalau orang  hijrah kok hanya untuk sekedar kepentingan politik. Dan beriman menurutNya tentu bukan hanya sekadar tampilan syar'i dan ucapan yang banyak diganti pakai bahasa arab, tetapi akhlak menyeluruh dalam kehidupannya, " tanggapnya berpendapat.
Sugiarti mengajak masyarakat berhijrah yang sesungguhnya, benarbenar mendekatkan diri padaNya, bersihkan diri dari semburan nafsu dan syahwat politik. "Supaya diri ini pun bersih dari caci maki dan merendahkan orang lain karena dianggap lebih lemah imannya hanya karena mereka nggak sepilihan dalam pilpres. Karena iman yang sejatinya itu nggak ada hubungannya dengan politik, " terangnya berharap.
Sebagai caleg muda,  dia berpesan bahwa resep hidup bahagia itu sangat sederhana, yaitu dengan tetap berbuat baik. Jika dlm perjalanan mengalami sakit, cukup bertahanlah. Karena sakit yang tak mematikan itu akan menguatkan.
Selain itu, Sugiarti berpesan bahwa tanda seseorang mulai terpapar virus radikalisme adalah dia berpikir bahwa untuk menjadi benar itu harus berani tidak sama dengan orang banyakan dan harus berani menyerukan kebenaran tersebut (dakwah). Tak heran orang semacam itu sangat gencar nyebar hoax, krarena mereka meyakini kebenarannya itu ekslusif. "Mereka yakin banget bahwa mereka baru menemukan sesuatu kebenaran yang selama ini tertutupi oleh konspirasi dan mereka adalah golongan yg terdzolimi. Padahal, ya akalmu itu yang baru jungkir balikin, " ujarnya berpendapat.
Sebagai caleg, Sugiarti ingin memajukan pendidikan daerah agar siap menghadapi era milenial.  "Meskipun saya tak pernah bercitacita menjadi seorang guru, rupanya saya memang terlahir untuk menjadi seorang guru. Bagaimana tidak, sebelum saya lulus S1 (thn 2006) saya tergiring oleh takdir utk mulai menjadi guru honorer di SMP N 5 Yogyakarta yang merupakan SMP favorit di Jogja. Dan setelah itu kesempatan demi kesempatan hadir dan memberi warna atas keberagaman pengalaman tentang situasi sekolah hingga Universitas. Dan hingga akhirnya aku merasa bahwa mengajar adalah sesuatu yg melekat erat di diriku dan tak pernah lepas chemistry nya," ungkap Sugiarti. Ditambahkannya bahwa pekerjaan tersebut dilakukan tidak selalu untuk mencari penghidupan tetapi lebih kepada kebahagiaan. Terlebih lagi ketika bisa berbagi dengan orang-orang yang memang sangat memerlukan dan mereka juga butuh tambahan semangat untuk mampu bangkit dari realitas kehidupannya.
Kegiatan sosial pendidikan yang dilakukan Sugiarti lumayan beragam.  Misalnya kegiatan pelatihan Public Speaking untuk para santri/wati di Rumah Gemilang Indonesia (RGI) yang berlokasi di Sawangan. RGI adalah yayasan non profit yang bergerak di bidang pendidikan, mereka membantu anak putus sekolah dan/atau lulusan SMA yang tidak kuliah dengan memberi ketrampilan yang berguna untuk kehidupan mereka seperti multi media, tata boga dan sebagainya.  Mereka sangat terbuka sekali jika ada praktisi atau akademisi mau berbagi ilmu dengan mereka dan teman-teman. "Jika temanvada yang berminat untuk  berbagi ilmu bisa hubungi saya ya, saya akan hubungkan dengan pihak manajemen, " promonya.
Sugiarti punya harapan besar kepada masyarakat untuk tetap positif di tengah situasi hiruk pikuk dan penuh ketidakpastian.  "Maka berpikilah positif, lihatlah dunia dengan harapan. Baca buku dan bergaulah dengan orang yang positif dan menginspirasi. Lakukan kebiasaan positif yang membangun, serta bicaralah tentang hal yang mendukung kemajuan. Lalu ambil langkah nyata dengan memulai berkarya, sekecil apapun, segagal apapun. Teruslah berusaha dan diperbaiki, jika bertemu dengan kendala dan cibiran, tersenyumlah. Mereka hanya sedang membangun supaya kita menjadi lebih baik dan pantas untuk dapatkan yang akan kita raih!" pesannya.  (batimbang.com)

0 comments: