UWAIS AL-QARNI: PEMUDA YAMAN YANG TERSOHOR NAMANYA DI NEGERI LANGIT



OLEH MUHAMMAD ARBAIN - DOSEN AGAMA DI UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN,  PROVOKATOR MENULIS DAN PENULIS BUKU BESTSELLER


Uwais Al-Qarni: Pemuda Yaman yang Tersohor Namanya di Negeri Langit


Di negeri Yaman, hiduplah seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni bersama dengan ibunya yang tua renta, lumpuh, dan buta. Sementara Uwais juga menderita penyakit sopak (kulit belang-belang). Mereka berasal dari keluarga fakir yang hanya hidup berdua tanpa sanak famili. Ayahnya telah wafat ketika ia masih kecil. Sepeninggalan ayahnya, ia-lah yang mengurus seluruh kebutuhan ibunya. Bahkan ia bekerja paruh waktu di siang hari dengan menggembalakan unta para saundagar di Negeri Yaman. Di malam hari ia sering mrnunaikan shalat malam, puasa, dan mengerjakan amal kebajikan lainnya. Setiap permintaan ibunya dia kabulkan. Namun, ada satu permintaan yang sungguh berat dikabulkan oleh Uwais. Ibunya meminta agar sebelum meninggal dunia, ingin naik haji ke Baitullah, Makkah. Uwais menghela nafas panjang, dengan berat hati Uwais menyanggupi permintaan sang ibu. Ia tahu bahwa untuk menempuh Baitullah dari Yaman ke Mekkah sungguh sangatlah jauh. Harus memiliki kendaraan yang kuat dengan bekal perjalanan yang banyak. Dengan kemiskinan yang menghimpitnya, itu sesuatu yang mustahil, tapi Uwais yakin jika masih berusaha pasti ada jalan keluar. Kemudian Uwais membeli seekor lembu di pasar dan ia pun membuat kandang di atas bukit. Lembu ini bukanlah kendaraan yang mengantarkan ibunya ke Baitullah, tapi untuk digendong Uwais naik turun bukit hampir setiap hari. Masyarakat kampung dengan sinisnya mengatakan bahwa Uwais aneh dan gila, karena lembu yang seharusya dinaiki oleh manusia, tetapi Uwais malah menggendongnya. Ternyata, lembu ini sebagai latihan agar ototnya kuat dan bisa menggendong ibunya pergi ke Baitullah, Makkah. Tak terasa lembu yang ia pikul semakin besar hingga mencapai 100 kg.  Akhirnya perjalan menggendong ibunya ke Baitullah dimulai.
Baginya, sudah saatnya menggendong ibunya pergi menunaikan haji di Baitullah. Karena semakin hari, penyakit ibunya semakin parah. Namun cinta kasihnya pada ibunya tak pernah pudar. Ketika tiba di Baitullah Makkah, ia melakukan tawaf bersama ibunya. Jauhnya perjalanan membuat telapak kaki Uwais terbelah dan luka, namun semangat ingin menunaikan haji ibunya mengalahkan rasa sakitnya. Setelah ritual ibadah haji usai, meraka pun pulang kembali ke Yaman menempun perjalanan kaki yang cukup jauh. Bakti Uwais ini menjadi pemandangan indah di negeri langit. Para Malaikat terkagum-kagum dengan bakti Uwais pada ibunya. Belum pernah ada manusia yang seperti Uwais di dunia ini.
Setiba di Yaman, Uwais rupanya memendam keinginan yang teramat dalam. Ia rindu ingin bertemu dengan Baginda Muhammad Saw.,sosok manusia mulia yang diagung-agungkan manusia dan malaikat. Uwais sangat rindu ingin bertemua dengan baginda Nabi di Madinah. Hingga akhirnya, ia berkata kepada ibunya untuk pamit bertemu dengan baginda Nabi Muhammad Saw. Kemudian ibunya mengijinkan Uwais pergi bertemu Nabi, tapi ketika telah bertemu Nabi Uwais harus pulang segera. Akhirnya Uwais pergi, namun sebelum pergi, ia menyiapkan seluruh kebutuhan ibunya, dan meminta tolong kepada tetangganya untuk menengok ibunya.
Ketika tiba di Madinah, ia langsung mencari kediaman Nabi Muhammad Saw,. Ketika ia mengetuk pintu, yang keluar bukanlah baginda Nabi Muhammad, tetapi Siti Aisyah, istri Nabi Muhammad. Ternyata Nabi Muhammad lagi tidak ada di rumah, ia sedang pergi melakukan perang uhud bersama dengan para sahabatnya. Uwais tetap tidak bisa bertemu Nabi Muhammad, jika ia menunggu terlalu lama, maka ibunya tidak ada yang mengurus. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke negeri Yaman. Dan keingin bertemu Nabi Muhammad pun pupus.
Ketika Nabi Muhammad Saw kembali ke Madinah, beliau bertanya kepada Aisyah, apakah ada seseorang yang mencariku. Aisyah menceritakan bahwa ada seorang pemuda dari Yaman yang ingin sekali bertemu dengan Nabi, namun ia tidak bisa meninggalkan ibunya yang tua renta terlalu lama. Baginda Nabi kemudian berucap, “Dialah pemuda penghuni bumi yang kemashurannya tersohor di negeri langit karena baktinya kepada ibunya”.
Kemudian Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib yang ada di samping beliau terheran, siapakah gerangan pemuda yang terkenal di langit itu wahai baginda Nabi. Lalu Nabi berkata, Dia adalah Uwais Al-Qarni, dia memiliki tanda putih di telapak tangannya. Carilah ia dan mintalah doa untuk kalian berdua, doanya makbul.
Akhirnya Umar dan Ali setiap saat selalu memeriksa para saudagar yang datang dari negeri Yaman, hingga akhirnya pada suatu ketika ia menjumpai Uwais ada di kalangan para saudagar dari negeri Yaman. Ketika mereka melihat tanda di telapak tangannya, mereka kemudian memohon doa kepada Uwais agar diberikan keselamatan dunia akhirat.
Hingga ketika Uwais terdengan kabarnya telah wafat, seluruh masyarakat Yaman dan jazirah Arab mengunjungi Uwais, tanpa disuruh mereka sudah menyiapkan segala perlengkapan pemakaman Uwais, bahkan orang-orang ini tidak tahu dari mana asalnya. Uwais tidak terkenal seperti para sahabat lainnya di bumi tapi Uwais sangat terkenal di langit. Ketenaran Uwais di langit tidak lain karena baktinya kepada ibunya. Maka pantasnya, Rasulullah Saw bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Surga ada di telapak kaki Ibu”. Para sahabat juga pernah menanyakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah yang harus kami hormati di dunia ini?”, Rasulullah menjawab dengan tegas, “Ibumu….Ibumu…Ibumu….kemudian ayahmu."

0 comments: