ZULKIFLI, POLITISI MUDA MUSLIM YANG BERANI TAMPIL DI TENGAH KEMUAKAN MASYARAKAT TERHADAP POLITIK


(Batimbang, Tarakan)  - Iklim kebebasan yang dilahirkan gerakan reformasi 1998 ternyata bagaikan dua mata pisau. Satu sisinya memberikan dampak positif. Namun sisi lain banyak memberikan efek negatif. Khususnya dilakukan orang tidak bertanggungjawab dan sisa rezim orde baru yang terus bergerilya dengan beragam cara untuk mengembalikan pengaruhnya.
Dampak buruk juga tampak pada munculnya sikap muak masyarakat kepada proses politik yang saat ini terjadi.

Khususnya terkait dengan perkembangan teknologi informasi berupa media sosial. Penyalahgunaannya seperti menyebar ghibah, fitnah bahkan terjadi di kalangan umat Islam sehingga muncul saling tidak percaya. Bahkan, banyak orang menghindari dunia politik karena muak. Di tengah keadaan seperti itu, seorang anak muda muslim dari keluarga nelayan di pemukiman belakang BRI Tarakan alias kampung laut Selumit Pantai, tampil membangun kiprah dengan semangat baru di dunia politik lewat khidmahnya di Partai Kebangkitan Bangsa.
"Kami jenuh dan muak dengan  suasana politik yang terasa melenceng jauh dari tujuan cita-cita sesungguhnya.
Kami hanya anak muda masa kini yang coba menjalankan mandat politik Nahdlatul Ulama dalam Wadah yang dibentuk Para Kiyai ini semaksimal kemamouan yang kami miliki, " ujarnya menjelaskan kondisi sekarang di mata seorang pemuda muslim.
Zulkifli memang mantan aktivis muslim di kampus. Dia pernah menjadi Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Tarakan)  Kalimantan Utara. Dia juga malang melintang di dunia aktivis seperti menjadi pengurus BEM dan UKM Seni Budaya. Pengalamannya berorganisasi membuatnya lincah berkomunikasi dengan masyarakat beragam budaya dan tak memandang latar suku agama dan golongannya.
Untuk itulah, Zulkifli punya cara sendiri dalam menjalani kiprahnya sebagai politisi muda di era milenial. "Kami mengenalkan salam lima jari di dada. Menunjukkan kami pemuda muslim cinta sholat lima waktu. Dan Islam selalu di jiwa kami. Sebab semangat berkhidmah dan berjuang kami yakni untuk Agamaku,  untuk Bangsaku, dan untuk Negara dan semua, " ujarnya.
Dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat, Bang Zul, panggilan akrabnya, sering menggunakan cara nobrol santai serius ketawa ketiwi dengan emak-emak. "Ini jauh Lebih menarik. Kenapa? membaca sedang baik atau tidaknya kondisi sosial di masyarakat kau emak-emaklah yang paling pertama merasakan dampaknya. Mereka tahu persoalan-persoalan sesungguhnya, " tegasnya memberi alasan.
Politisi muda muslim tersebut juga jengah dengan dampak perkembangan media sosial khususnya ghibah dan fitnah yang disebar. Dalam bahasa kekinian disebut hoax.  "Per Desember 2017 Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu.
Uniknya kita malah asyik ikut menyebarkan berita-berita yang dari tampilannya saja sudah kelihatan kalau itu palsu dan asal bikin. Tapi kenapa kita share ya?
Aneh-aneh memang. Mulai dari screenshoot editan ngasal sampai dngan informasi berita abal-abal. Lengkap lah penderitaan, " sesalnya melihat perkembangan saat ini.
Zulkifli merupakan santri dari Puang Gurutta KH. Abdul Latif Amin dari Bone. Sebab itulah dia sangat bersedih dengan ulama ternama yang telah membimbingnya menuntut ilmu agama dan menjadi seorang pemuda muslim yang berkarakter islam.  "Innalillahi wainnaailaihi rojiun. Telah berpulang kerahmatullah Kiyai kami Anregutta KH Abd. Latif Amin.
Almarhum adalah salah satu ulama Kharismatik Bone Sulsel yang sangat dekat dengan para santrinya. Membekas satu kata-kata almarhum ke kami si santri bandel waktu masih di pondok yakni kalian masingmasing punya kelebihan, temukan itu, " kenangnya mengingat masa silam saat menjadi santri.
Zulkifli masih sangat muda sebagai politisi. Perjalanannya sebagai politisi muslim akan diuji sejarah. Kiprahnya untuk melayani masyarakat dengan program bermanfaat dan menjadikannya sebagai berkah bagi masyarakat pasti akan ditunggu banyak orang.  (batimbang.com)

0 comments: