KECEBONG



Oleh Muhammad Thobroni - Budayawan,  tinggal di Kalimantan Utara


KECEBONG

Hari-hari orang Indonesia belakangan ini kerap diperdengarkan istilah "kecebong". Mula-mula, istilah tersebut hanya berseliweran lalu-lalang lewat telinga dalam perbincangan warung kopi atau hilir-mudik di beranda media sosial. Namun, pelan tapi pasti, "kecebong" bergerak liar dalam kolam kehidupan yang luas dan rumit. Di dunia politik praktis Indonesia, "kecebong" dihadirkan dalam maknanya yang peyoratif dan bahkan cenderung stereotip.
Jadi, apakah itu "kecebong" yang sebenar-benarnya secara bahasa dan asal-usulnya?
Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  versi online, dapat ditemukan makna bahwa kecebong ditulis ke.ce.bong /kece'bong/ n merupakan larva binatang amfibi, semacam katak dan sebagainya,  yang hidup di air dan bernapas dengan insang serta memiliki ekor.
Sementara dalam versi wikipedia dijelaskan bahwa kecebong atau berudu merupakan tahap pradewasa dalam daur hidup amfibia. Kecebong secara ekslusif hidup di dalam air dan bernafas menggunakan ingsang. Pada tahap akuatik tersebut, amfibia memperoleh namanya. Lain dari itu semua, umumnya kecebong dikenal sebagai herbivora alias hewan pemangsa tumbuhan semacam alga. Namun, terdapat beberapa jenis kecebong ternyata omnivora alias kanibal pemakan daging bahkan memangsa sesamanya. Hal itu terutama dapat terjadi bila tak ada lagi makanan utama yang dapat dimangsanya.  Setelah dewasa, kecebong berubah menjadi hewan tersohor dalam kehidupan manusia yakni katak alias kodok.
Kodok dan kecebong khususnya masuk dalam ranah perdebatan politik, menjadi slogan politik, berita politik, bahkan ujaran kebencian politik, saat bersamaan dengan munculnya Joko Widodo menjadi pemimpin di ibukota dan belakangan menjadi presiden.
Dari berbagai media nasional maupun lokal dengan mudah ditemukan informasi tentang kedekatan kodok dan kecebong dengan pribadi Joko Widodo. Bukan rahasia bila Joko Widodo alias Jokowi gemar memelihara kodok dan kecebong juga. Bahkan, Jokowi memiliki kolam air yang penuh berisi kecebong. Sesekali dalam waktu luangnya, Jokowi mengambil dan bermain dengan peliharaannya.
Musuh politik Jokowi, terutama sejak proses politik yang mengeras dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta dan Presiden Indonesia, secara bersemangat melabeli para pendukung Jokowi dengan sebutan kecebong, atau cebong, atau kerap pula hanya penggalan belakang nama yakni Bong saja. Dalam fenomena milenial yang disruptif, sebutan kecebong atau cebong itu kadang dapat bergeser menjadi cebongers, chebby, dan sebagainya.
Sebutan cebong dari lawan politik secara bahasa tampak menjadi stigma negatif yang dapat dimaknai bahwa pendukung Jokowi, atau bahkan siapapun yang tidak melawan Jokowi meski belum tentu mendukung Jokowi, merupakan hewan peliharaan semata. Para cebonger tersebut dianggap menjadi peliharan Jokowi dan hanya dimanfaatkan semata. Stigma itu tentu saja mengandung kekerasan linguistik, bahkan dapat memicu ujaran kebencian yang berbahaya sebab dikhawatirkan mampu melahirkan disintegrasi masyarakat Indonesia.
Namun, fenomena sebutan kecebong tampaknya tak selalu negatif atau setidaknya dianggap bukan sesuatu yang negatif dan stereotip, khususnya di kalangan pengikut Jokowi militan. Bahkan, kecebong itu dikemas dalam istilah bahasa milenial yakni Chebby, dan menjadi sebuah ikon budaya bahasa politik baru yang mampu mewarnai jagad perbahasaan di Indonesia. Kebanggaan sebutan sebagai kelompok kecebong dengan istilah chebby alias cebong yang keren tersebut tampaknya dapat mengurangi ketegangan komunikasi berbahasa dalam dialektika politik akhir-akhir ini.
Sebuah istilah bahasa memang pada awalnya hanya fenomena biasa, netral, sebagaimana pula kemunculan sebutan lain. Namun, sebuah istilah bahasa, sebagaimana juga fenomena bahasa lain, akan diuji oleh zaman dan sejarah, dan sangat terbuka mengalami pergeseran termasuk pergeseran ke arah negatif. Namun, dalam tarik-ulur perebutan makna, "lawan tutur" memiliki kesempatan untuk memberikan makna lain sebagai tandingan. Cebong dalam maknanya yang ideologis, bukan semata hewan amfibi, pada akhirnya muncul dan berdiri di ruang pertarungan ideologi bahasa.
Memang banyak orang berkeinginan bahasa digunakan di ruang netral, dalam maksud tidak dibajak kooptasi politik praktis. Namun, hal demikian itu tampaknya hanya mudah dituliskan, bukan?



0 comments: