PII, ALUMNI PII DAN KESAKSIAN ALUMNI PII




OLEH MUHAMMAD IKHSAN - GURU DI SEBATIK, KABUPATEN NUNUKAN

PII, ALUMNI PII DAN KESAKSIAN ALUMNI PII


Alhamdulillah beberapa waktunya Lalu saya  kedatangan tamu istimewa, kanda KH. Muslihuddin Rasyid, LC, M. Pd. I., anggota DPD - RI.

Saya sempat kaget ketika beliau datang, selain tanpa pemberitahuan setahu saya beliau tidak tahu alamat rumah saya yang akhirnya beliau temukan setelah bertanya pada beberapa orang.

Yang mengharukan adalah kedatangan beliau ke rumah kami berkenaan dengan pelaksanaan Leadership Basic Training - Pelajar Islam Indonesia. (LBT - PII) yang rencananya akan digelar di Sebatik dan Nunukan.

Kami memang sama-sama pernah dikader di PII. Beliau kader PII era 80-an sebelum melanjutkan studinya di Al-Azhar, Kairo -Mesir sedangkan saya kader PII era 90-an.
Meski berbeda wilayah, beliau di Banjarmasin dan saya di Makassar namun ikatan emosional selaku kader PII tetaplah kental.

Pelajar Islam Indonesia atau disingkat dengan PII adalah organisasi pelajar terbesar di Indonesia yang didirikan pada tahun 1947. Kiprahnya dalam mengawal dan mengisi kemerdekaan tak dapat diragukan lagi. Pada tahun 1965, PII adalah organisasi pelajar yang mempelopori Kesatuan Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) yang aktif dalam pengganyangan PKI. PII memang salah satu musuh bebuyutan PKI pasca tragedi Kanigoro atau Kanigoro affair yakni pembantaian kader PII yang sedang melaksanakan Bastra oleh massa PKI. Tragedi itu menjadi prolog dalam film pengkhianatan G 30 S/PKI garapan Arifin C. Noer.

Thn 1996 ketika masih duduk di bangku kelas 2 SMA saya mengikuti pengkaderan PII di Perguruan Islam Datu Museng. Ketika itu PII adalah salah satu ormas yang dibubarkan oleh rezim ORBA lantaran menolak azas tunggal dan melanggar UU No. 8 thn 1985 tentang Keormasan  dan karena dianggap ilegal maka kami kerap diintai aparat keamanan bahkan beberapa senior kami ditangkapi namun justeru itu yang menjadi pesona bagi anak2 ABG seperti kami.  Saking menariknya PII dimata saya waktu itu sampai-sampai saya memutuskan untuk berhenti dari Pramuka Saka Bahari pada tahun 1996 dan mengikuti latihan Brigade PII di sebuah pantai yang sunyi di Sulsel.  Situasi baru berubah ketika PII kembali legal pada tahun  1997 pasca Muktamar PII di Jakarta yang mengharu biru. Ribuan kader tumpah ruah memenuhi arena kongres mulai dari  A.M Fatwa, Ali Muhtar Ngabalin hingga Yusril Ihza Mahendra yang  notabene adalah kader PII. Sebuah lagu barupun diciptakan (Untukmu PII) dan dinyanyikan dengan syahdu oleh Korps PII - Wati diiringi isak tangis para kader PII se-Indonesia. Hari itu serasa kami bagaikan kombatan yang turun gunung.
Keharuan itu masih membekas hingga saat ini ketika beliau datang dgn senyumannya yang tulus. 
Ketika mulai kuliah saya aktif di beberapa lembaga kemahasiswaan diantaranya Badan Eksekutif Mahasiswa dan HMI namun PII tetaplah cinta pertama yang memperkenalkan saya pada dunia pergerakan.

Pada pertemuan tadi pagi beliau menyoal degradasi moral di kalangan pelajar yang makin mengkhawatirkan mulai dari peredaran narkoba hingga pergaulan bebas sekaligus menaruh harapan besar agar eksistensi PII di tapal batas bisa mereduksi hal tersebut. Oleh karena itu beliau menitipkan amanah agar menggiatkan PII di perbatasan yang tentu saja cukup berat namun challenging bagi kami.

Banyak hal-hal inspiratif yang saya dapat dari pertemuan singkat dengan beliau tadi pagi di antaranya adalah komitmen keummatan beliau yang tak juga luntur di usianya yang mulai sepuh. Cucu ulama Banjar KH Abul Hasan, seorang penyebar agama Islam di Kaltim ini tampaknya mewarisi kealiman sang kakek.

Semoga Allah SWT memberi kesehatan pada beliau KH. Muslihuddin Rasyid, LC, M. Pd. I dalam segala ikhtiar dan perjuangannya untuk ummat.


0 comments: