"Dunia Tanpa Tawa" Cerita Pendek Oleh Rahmi Namirotulmina


                Ilustrasi : Sipin


Dunia Tanpa Tawa

“ Bu kenalin, ini teman saya . Di sebelah kiri saya ini guru bahasa inggris.  Dan yang sebelah kanan  saya ini guru bahasa perancis

” . Begitulah cara Rio memperkenalkan kedua temannya. Bergaya seperti peserta cerdas cermat zaman dulu yang pernah tayang di televisi milik pemerintah. Rio berusaha melucu.

“ Kalo mas Rio sendiri, guru bahasa apa?” tanyaku .
“ Bahasa tubuh” katanya dengan ekspresi innocent. Aku tergelak. Rio tergelak, begitupun dengan kedua orang temannya.  Lalu aku menyalami mereka satu persatu. Memperkenalkan diri. Aku menyalami guru bahasa inggris, lalu menyalami guru bahasa perancis, setelah itu aku meyalami Rio.

“Alana” Kataku sopan “ Saya Rio. Bu alana cantik sekali” Kata rio lebih sopan “ Mas Rio juga gak kalah cantik”  Jawabku jauh lebih sopan . Rio terbahak. Aku menyusul terbahak, begitupun dengan kedua orang teman Rio. Setelah itu kami mengambil tempat duduk masing masing.  Kedua teman Rio mengambil posisi di sudut. Sebuah meja  dengan dua kursi.  Aku kembali ke tempat dudukku dan Rio mengambil tempat duduk di sampingku. Pun, meja kami hanya berkapasitas dua kursi.

Rio, lelaki 10 tahun lebih muda dariku ini selalu membuatku tergelak.
“ Mas Rio, Terimakasih sudah datang. Untuk kesekian kalinya menemani saya. saya senang berlama lama dengan mas Rio. Karena mas Rio selalu membuat saya tertawa” Rio tersipu
“Ibu salah, justeru saya lah yang senang berlama lama dengan ibu, karena ibu selalu membuat saya tertawa” aku ikut tersipu “ Gak lah mas Rio, mas Rio yang salah. Harusnya saya yang senang berlama lama dengan mas Rio karena mas Riolah yang selalu membuat saya tertawa “ Rio berusaha tersipu.

“ Ibu salah. Saya yang suka berlama lama dengan ibu. Karena ibu yang selalu membuat saya tertawa.”
“ Nggak mas.. saya yang suka berlama lama karena yang membuat saya tertawa itu..”

“Sumpah bu, saya yang suka berlama lama bu. Sumpah, ibu yang membuat saya..”

“ Mas Rio! Saya yang suka berlama lama!”
‘”Saya bu!”

“ Saya Mas!” Lalu kami tergelak. Tawaku  keras sekali. Begitupun dengan Rio. Aku dan Rio selalu terbahak bersama. Begitu lepas. Begitu bebas.  Kemudian, Rio menatapku lekat. Bola matanya mengunci bola mataku. Tatapan kami saling merekat. Rio berkata dengan suara yang berat.
“ Kita berdua sama sama suka lama lama. Kita berdua sama sama suka membuat tertawa”  Aku terenyuh. Aku terharu.
“ Untuk saat ini, aku hanya butuh tertawa. Untuk saat ini tak ada yang lebih penting bagiku selain tertawa”.   Bisikku, Rio menggenggam tanganku dan aku merasa begitu hangat. Perempuan yang sudah lama menikah sepertiku, sudah jarang tertawa. Bahkan rasanya, hampir tidak pernah tertawa.

 Kewajiban dan beban sebagai istri dan seorang ibu adalah hal yang begitu serius dan tak patut  ditertawakan.  Suami tidak suka masakan istri, anak anak terkadang tidak selesai mengerjakan PR, tagihan listrik merangkak naik padahal lampu selalu diredupkan,  timbangan berat badan yang justru semakin ke kanan, dan seterusnya adalah hal hal  serius yang tidak bisa ditertawakan. Sementara live streaming mengintip di mana mana. Menuntut kesempurnaan dan memviralkan kekurangan . Sekali seorang istri, seorang ibu lengah karena  lelah, maka caci maki pasti bertubi tubi. Perempuan yang sudah lama menikah sepertiku, tak punya waktu untuk sekedar  tertawa .

  Bila materi terlalu sempit, uang begitu sedikit sementara kebutuhan beraneka rupa, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara?  Bila suami sibuk berasyik masyuk dengan dunianya, tak sempat menyapa apalagi memberi  waktu untuk bercumbu, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara? Bila anak anak tak bisa berlaku seperti yang diinginkan, lintang pukang dengan kenakalan, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara? Bila segala doa telah dirapalkan setiap waktu namun Tuhan meminta kita menunggu, bukankah tertawa bisa menjadi pelipur lara? Sayangnya perempuan yang sudah lama menikah sepertiku, lupa caranya tertawa.

 “Hayyooooo..ngelamun lagi. Nih, diminum!” Rio menyodorkan sebotol kecap. Membuyarkan lamunanku dan kembali membuatku tergelak.

 “ Camilannya mas..” Aku menyodorkan tumpukan tusuk gigi. Sekarang Rio yang terbahak. Melihatnya terbahak, aku merasa kosong.  Narendra suamiku, tak pernah tergelak oleh ku. Begitupun aku selalu dibuatnya beku. Mengapa dua orang yang saling mencintai dan sudah lama menikah tidak memiliki cukup alasan untuk tertawa bersama? Bila aku bersama Narendra, kami terkepung kebekuan. Bila aku bicara, dia diam.  Obrolanku akan berakhir ketika dia menimpali “ Oh, begitu ya..”. Ketika dia yang bercerita, aku akan diam. Dan kisahnya berakhir setelah aku menyahut  “Oh, begitu ya.” Setelah itu kami terjebak dalam situasi salah tingkah. Kami mengobatinya dengan menyibukkan diri pada gadget masing masing. Kami bersama dalam hampa. Belum sempat tertawa bersama, kami sudah merasa asing. Lagi pula, aku juga tidak tahu mengapa. Bersama Narendra aku merasa buntu untuk melucu. Merasa tak lucu dan merasa percuma bila melucu. Kurasa Narendra juga merasa begitu. Dia tidak lucu, tidak pernah berusaha melucu ataupun merasa perlu melucu bersamaku. Hubungan kami begitu datar dalam ketegangan.

 Aku telah menjalani banyak  kebosanan. Dan aku tidak pernah mempertanyakan mengapa aku dan Narendra kehilangan kehangatan. Narendra pun bersikap acuh, tak pernah berusaha mengurai ujung pangkal persoalan.  Kami berdua dalam kepasrahan dicekam bosan yang tak berkesudahan.

  “Mas, aku pulang ya..cucian di rumah numpuk” kataku sambil menandaskan capuccino di cangkirku.

  “Ok, nanti saya nyusul kerumah ibu ya, kebetulan cucian saya juga numpuk. Bisa sekalian ibu cuci “ Jawabnya sambil buru buru menandaskan capuccino di cangkirnya.

  “Cucian saya, nggak saya cuci mas. Saya buang! Saya kan hoooorrrraaaangng kaaaayyyyaahhh, Baju sekali pakai” Rio terkekeh, lalu buru buru mengeluarkan uang untuk membayar cangkir capuccinoku dan cangkir capuccinonya.
 “ Saya hoorrraaang kayyyaah bu.. uang di dompet saya ini sekali pakai saja” Katanya ketika aku mencegahnya membayar. Aku tersenyum.

  “ Hati hati di jalan bu. Jangan lupakan aku. Kirim surat kalau sudah sampai ya. Aku akan selalu rindu...” begitu suara Rio lamat lamat terdengar. Dari kaca spion kulihat sesekali dia menempelkan jari jari di bibirnya, memberi ciuman jarak jauh. Rio masih tetap berusaha melucu dangan aku masih sempat terkekeh sendirian.

   Di langit, senja terbakar. Kuinjak gas dengan perasaan kosong . Aku telah siap menjalani  dunia tanpa tawa, hanya saja aku tidak tahu sampai berapa lama  aku sanggup.



Rahmi Namirotulmina adalah pendidik di salah satu sekolah di daerah Kuaro, Kalimantan Timur. Penulis merupakan pegiat sastra dan aktif di laman Facebook.

1 comment: