BAGAIMANA INI? Cerpen Anto Narasoma

Ilustrasi: Sipin

AIR muka  Muslim tampak teduh. Setelah ia membaca zikir berkali-kali hatinya menjadi tenang. Hari kedelapan belas ramadan membuat matanya mengantuk. 

    Sebab pada malam ketujuh belas Nuzulul Quran kemarin, ia tidak tidur semalaman karena salat malam. Ia selalu bermunajat ke pada Allah agar selalu mendapat berkah.

  Setelah membaca ayatul Kursi, di dalam hatinya ia selalu berzikir. Di lidahnya, asma Allah itu tak putus-putus ia sebut berkali-kali.

   Ia pernah berbincang dengan Parto,  tentang wujud sesorang muslim yang pasrah dan selalu berserah diri ke pada Allah.

   "Mengapa kau tidak pernah memakai songkok dan gamis sebagai seorang muslim?" tanya Parto di ruang kerja Muslim, beberapa hari lalu.

  Mendengar itu, Muslim tersenyum. Ia menatap lembut wajah sahabatnya ini.

   "Menurut saya, biarlah berpakaian seperti biasa. Kecuali pada hari-hari tertentu khusus pelaksaan keagamaan," jawab Muslim.

     Bagi Muslim, berserah diri ke pada Allah itu tak  harus memakai atribut keagamaan. Yang jelas, Allah itu tidak melihat manusia dari bentuknya. 

    "Allah melihat manusia dari hatinya. Jika hatinya bersih dan selalu mengejar kebaikan, maka orang itu memiliki kepasrahan jiwa untuk Tuhannya. Saya pikir, dialah orang baik yang taat beragama," ujar Muslim.

     Padahal saat itu Muslim sedang pusing dan tidak memiliki banyak uang. Di dompetnya hanya tersisa uang sebesar Rp 50 ribu saja. Padahal sebelum ia ke kantor, istrinya meminta uang untuk bayaran  sekolah anaknya.  Selain itu, minyak motornya sudah ke garis merah, minta diisi. Ya Allah, bagaimana ini?

     Muslim bingung bukan main. Namun di balik meja ruang kerjanya, ia tetap yakin ke pada Allah, ada saja sesuatu yang dapat mendatangkan rezeki bagi dia.

   Di saat dia tenggelam di dalam lamunannya yang panjang, pintu ruang kerjanya terbuka. Seseorang dengan rambut panjang lusuh berpakaian eksesntrik menyapanya.

  "Assalamualaikum," ucap laki-laki itu. Wajahnya tampak dibebani masalah.

  "Waalaikum salam. Silakan duduk. Dari mana ya?" tanya Muslim.

  Laki-laki itu manatap lembut ke wajah Muslim. Lalu ia tersenyum. "Mas Muslim tidak mengenali saya?".

    Muslim menatap laki-laki itu. Dalam sekali tatapannya hingga keningnya berkerut. "Dik Azhar?" tanya Muslim.

 "Alhamdulilah. Ternyata Mas Muslim.masih mengenali muka saya yang seram ini,"  tukas Azhar, tersenyum.

 "Subhanallah. Sudah sepuluh tahun terakhir kita tidak bertemu, Azhar?".

 "Iya, Mas. Saya tetap ngamen di gugusan rumah makan di Jalan Radial, Mas," ujar Azhar, tersenyum.

  "Ah, tidak apa-apa. Yang penting halal. Ada dua hal yang kita peroleh disaat mengamen. Pertama kita bahagia bernyanyi dengan.musik dan lagu-lagu yang kita sukai. Kedua, kita juga bahagia setelah membahagiakan orang, kita mendapat rezeki. Yang jelas, konsentrasi kita semata-mata hanya memberi hiburan untuk orang lain. Soal rezeki sudah ditentukan Allah," kata Muslim.

  "Iya Mas. Saya ingat ketika dulu Mas Muslim mengajari saya bernyanyi dan memetik gitar yang bagus. Hingga saat ini ajaran Mas Muslim itu tetap saya praktikkan".

  "Syukurlah. Semoga apa yang sudah dikuasai itu dapat kau kembangkan. Saya berdoa agar ada pihak yang mau mengajak kau rekaman, Azhar," tukas Muslim.

"Amin. Semoga saja".

  Perbingan kedua sahabat lama itu berlangsung akrab. Namun Azhar mengatakan saat ini suasananya sepi. Rumah-rumah makan tempat Azhar bekerja saat ini sepi bukan main.

  Setelah banyak yang diperbincangkan, wajah Azhar tampak mendung. Ada kesedihan mendalam di balik itu.

  "Ada apa, Dik Azhar? Kau tampak sedih," tanya Muslim dengan alis bertaut.

"Anakku sakit, Mas".

"Sakit?"

  "Iya, Mas. Saat ini ia dirawat di Rumah Sakit Dr Mohammad Hoesin," jawab Azhar.

"Sakit apa?".

"Demam berdarah. Ia membutuhkan obat luar. Saya harus menebusnya di apotek. Tapi saya tak punya uang. Saya mohon bantuan Mas Muslim untuk menebus obat anak saya itu," tukasnya. Mata Azhar digelimangi air mata.

  "Masya Allah, bagaimana aku bisa membantu Azhar? Sedangkan di saku hanya tersisa uang sebesar Rp 50 ribu. Tengki motorku nyaris kosong dan minta diisi.
Bagaimana ini?

  "Ini hari Sabtu. Mau ngutang ke kasir, ruangnya tutup. Memang. Tiap hari Sabtu kasir di kantornya tutup. Makanya Muslim tak dapat meminjam uang untuk kepentingan uang sekolah anaknya.

  "Mana resep obatnya, Dik Azhar. Coba saya lihat," tukas Muslim.

  Azhar segera menyerahkan resep obat yang kertasnya tampak lecek karena lipatan dari saku celananya ke pada Muslim.

  Ketika melihat resep itu, hati Muslim bertanya-tanya, apakah dia bisa membantu Azhar?

   Setelah melihat dan memperhatikan resep itu, di sebalik kertas itu ada catatan dari apotek, harga dua obat hanya Rp 50 ribu. Ah, Alhamdulillah.

  Muslim segera mengeluarkan yang hanya tinggal selembar bernilai Rp 50 ribuan itu, dan ia berikan ke Azhar.

  "Ini, uang untuk menebus obat anakmu di apotek. Jangan ditunda lagi. Sebab penyakit demam berdarah itu sangat berbahaya. Jika fasenya meningkat, dari pori-pori anakmu akan mengeluarkan darah. Ini sangat berbahaya," kata Muslim.

"Tapi Mas Muslim enggak ada uang lagi?".

  "Tak perlu memikirkan saya. Yang perlu kau pikirkan adalah kesehatan anakmu."

  Dengan berat hati, uang itu diterima Azhar. Laki-laki ini segera minta diri untuk menebus obat ke apotek.

   "Nanti dahulu, Azhar. Biar saya antar ke apotek. Apabila kau naik bus kota, uang itu akan pecah dan kau tidak bisa menebus obat anakmu," kata Muslim.

****

    Muslim mengantarkan Azhar ke apotek di sebelah RS Mohammad Hosein Palembang. Ia melihat ke spidometer motornya. Wah, tengki minyak motornya nyaris kosong. Bagaimana ini?

   Setelah tiba di apotek, Muslim segera pamit ke Azhar untuk kembali ke kantornya. Ia mempercepat laju motor itu agar tidak mogok di jalan. Namun di hari-hari sibuk, jalan ke arah kantornya seringkali macet. Karena itu Muslim mencari "jalan tikus" agar segera sampai di kantornya.

  Suasana seperti itu memang berat. Apalagi setelah tiba di 500 meter ke kantornya, motor itu mogok karena kehabisan bahan bakar. Masya Allah!

   Dengan keringat mengucur dan suhu badan menurun, Muslim harus mendorong sepeda motornya. Yang membuat ia megap-megap, ketika menghadapi medan tanjakan yang begitu tajam.

   Untunglah, ketika tiba di jalan kawasan  hutan wisata Puntikayu, seorang skuriti perusahaannya melihat Muslim dalam kondisi lelah.

  "Mas Muslim, biar aku saja yang mendorong motor anda," kata Herlani yang mencoba berlari kecil memburu Muslim yang terlihat kelelahan.

   "Ooo, Herlani. Terima kasih, Dik," tukas Muslim mengatur pernapasan sembari menyerahkan motornya ke Herlani.

   Hari ini suasana yang dialami Muslim benar-benar melelahkan. Selain napasnya megap-megap, suasana badannya terasa dingin. Uff, alangkah lelahnya. Maklum usianya sudah memasuki limit 47 tahun.

   Ia beristirahat sejenak sembari memulihkan kedaannya.  Di balik meja kerjanya sebagai humas perusahaan, pikirannya jauh melayang ke sana-sini.

  Bagaimana ketika hendak pulang kerja nanti?  Motornya kehabisan bahan bakar. Sedangkan sepeser uang sudah tak ada lagi di sakunya.

  Mau meminjam motor teman, mereka pun membutuhkannya. Wuih, bagaimana ini?

****

   Muslim.terperangkap dalam situasi bingung. Entah apa yang harus ia lakukan berhadapan suasana sulit yang membekukan kreativitasnya.

   Di sinilah Muslim harus memasrahkan segalanya ke pada Allah. Ah, tak usah takut. Muslim  
memiliki  Allah yang maha penolong. Saya yakin dengan kekuasaanNya, demikian hatinya berbisik.

    Di saat kebingungan seperti itu, tiba-tiba telpon di ruangannya berdering. Muslim segera menyambutnya.

    "Assalamualaikum. Saya. Muslim. Ada yang bisa kami bantu?" Muslim menyapa.

    "Walaikum salam. Mas Muslim, saya Pak Pringgono. Saya sangat membutuhkan anda, Mas," ujar suara dari seberang sana.

    "Ooo iya, Pak. Apa yang dapat saya bantu untuk anda, Pak Pringgono? Saya siap melayani," ujar Muslim dengan nada lembut.

   "Saya sedang menulis tesis untuk mengambil strata 3 di Universitas Gadjahmada, Mas. Bisa menolong saya, Mas?" tanyanya.

   "Oo baik. Nanti saya ke pasca sarjana Universitas Sriwijaya," ujar Muslim.

     "Silakan, Mas. Saya tunggu di kantor, ya?" kata suara itu.

   Setelah meminjam motor anak buahnya di kantor, Muslim segera melaju ke kantor pasca sarjana Unsri.

   Dalam perjalanan sekitar empat kilometer, akhirnya Muslim pun tiba di kantor Pak Tringgono. Ia disambut hangat oleh dosen senior di Unsri tersebut.

  Setelah diperlihatkan tesis di komputer Pak Tringgono, Muslim segera memperbaiki kalimat dan bahasa tesis itu.

   Setelah sejam lebih, akhirnya penyajian bahasa tesis itu dapat diperbaikinya. 

   "Wah, luar biasa sekali, Mas. Kalau penyajiannya seperti ini, saya tidak malu menyodorkannya ke pembimbing di UGM Jogja. Terima kasih, Mas," ujar Pak Tringgono.

   Sebelum kembali ke kantornya, Muslim disodori amplop sebagai rasa terima kasih Pak Tringgono.

  Setiba di ruang kerjanya, Muslim membuka amplop tersebut. Ternyata Pak Tringgono memberinya uang sejumlah Rp 1,5 juta.

   Ah, terima kasih Allah. Ia merasakan setelah dengan ikhlasnya memberi Azhar uang senilai Rp 50 ribu untuk menebus obat anaknya, Tuhan membalasnya 30 kali lipat dari nilai pemberiannya ke Azhar.

   Alhamdulilah. Uang itu akan ia gunakan untuk memberi si empunya motor, Rp 100 ribu diberikannya ke Herlani (skuriti)  dan membeli bahan bakar minyak. Selebihnya, uang itu diberikan ke istrinya setelah ia mengisi dompetnya Rp 100 ribu. (*)

Tirta Musi, 23 Februari 2014

0 comments: