Musim di atas Angin, Cerita Pendek oleh Rendy Ipien

Sumber Ilustrasi: Liputan6.com


Musim di atas Angin

Tarakan 2004, kepala-kepala anak itu terus menengadah ke atas. Rupanya mereka sedang bermain di langit.

Bahkan menatap dengan asyik. Menjelang senja, hampir lima jam kepala anak-anak itu tak luput dari mainannya yang sedang terbang tinggi. Sesekali mereka melihat ke bawah. Namun hanya sekejap. Selanjutnya melihat ke atas lagi, agak lama guna memastikan mainanya dalam keadaan aman. Lalu menatap ke bawah lagi. Tepat pada sebuah kaleng berisi gulungan benang milik mereka masing-masing. Memastikan benang tidak kusut. Aman untuk ditarik dan diulur.

Sesekali keasyikan itu diisi dengan obrolan-obrolan. Meski tak memandang satu sama lain.

“Hati-hati kalian dengan Ular Sanca Hitam. Bisa mampus pendekarmu dililitnya.”

“Mana mungkin. Pendekar Buta punya banyak jurus. Malah, tongkatnya bisa memukul kepala ularmu biar jatuh.”

“Hei kamu. Mengapa Si Gurita agak menjauh. Takutkah pada Si Rajawali?”

“Ah tidak. Si Gurita justru begitu karena mau menyerang musuhnya.”

Terdengar ledakan tawa di atas bukit yang ditumbuhi rumput liar dan sedikit menutupi dinding-dinding benteng tua berukuran kecil milik bangsa Hindia-Belanda. Di situlah para anak-anak itu menghabiskan waktu setelah pulang sekolah untuk bermain layang-layang. Itulah mainan mereka karena memang inilah musimnya. Musim yang jarang hujan dan keseringan cerah. Musim yang datang tanpa harus ada pengumuman resmi, hanya melihat layangan melayang terbang tinggi secepat itu pula orang-orang mulai mengikuti.

Maka langit-langit yang biru dan cerah itu dimeriahkan oleh layang-layang. Sekitar langit memberi nuansa warna-warni. Merah, kuning, hijau, hitam, biru, ungu, abu-abu dan putih. Semua di udara. Semua di langit. Ada juga yang bergambar. Pendek kata bercap. Ada binatang, ada pula manusia, dewa maupun simbol lainnya. Mereka pun memberinya nama. Ular Sanca Hitam, Si Gurita, Si Rajawali, Gundala, Pendekar Goa Hantu, Ikan Mayung, Si Tuyul, Krokodail. Semuanya di atas angin. Sebentar-sebentar naik, meninggi. Sebentar-sebentar turun, merendah. Layang-layang itu tampak dalam ketinggian yang berbeda beda.

Sementara di rerumputan, dua anak sama-sama tersenyum. Salah satu memegang layangan. Satunya lagi memegang kaleng bergulungkan benang. Mereka berjalan-jalan hingga angin bertiup berhembus agak kencang dan Langkah mereka terhenti. Lantas, direntangkan layangan yang telah diikat benang itu sejauh kira-kira lima belas meter. Kemudian dilepas.

“Terbanglah tinggi.” Kata anak itu ketika layangannya terangkat oleh angin.

       Anak-anak disekitarnya menyaksikan di langit-langit, bahwa baru saja ada layangan naik. Mereka menoleh sebentar kepada Si Empunya. Ada pemain baru. Suara mereka terdengar pelan.

“Layangan apakah itu?”

“Ini namanya layangan Cap Perdamaian.”

“Cap perdamaian.”

“Bilang saja Perdamaian.”

“Oh. Saya baru lihat.”

     “Mau perdamaian, Ikan Mayung, Krokodile, Gundala, Ular Sanca Hitam, itu tidak penting.” Kata anak-anak yang berpakaian esempe.

“Lalu, apa?”

“Kekuatan!”

“Ya. Benar. Terbang tinggi sendiri, tidak seru.

“Makanya harus bertarung.”

“Intinya sontengan.”

Pembicaraan langsung berhenti tatkala layangan yang bernama Perdamaian itu menukik tajam ke layangan lain. Kemudian menyerong ke kanan. Kebetulan layangan yang satu tak jelas apa gambarnya karena tampak jauh dari pandangan. Kini dua layangan itu menyilang. Rupanya mereka sedang bertarung. Tidak lama, benang terputus. Layangan itu mengendur dan jatuh melayang-layang. Huuu. Seru anak-anak disekitarnya. Pemenangnya adalah layangan Perdamaian.

“Hebat.”

“Ini baru namanya kekuatan.”

     Masih dalam suasana memuji itulah aksi layangan Perdamaian belum usai. Korban berikutnya bermunculan. Dua sekaligus. Yakni layangan cap Pinokio dan Kura-kura Ninja.

“Pinokio tumbang.”

“Kura-kura Ninja gugur.”

Anak-anak itu tercengang melihat Si Empu layangan Perdamaian yang merupakan anak seumuran seperti mereka, pendatang baru namun sudah memakan korban. Pelan-pelan para pemain di atas bukit itu mengendalikan arah layangannya, mereka mewaspadai. Tetapi ada juga yang nekat ingin berduel. Kebetulan Pendekar Goa Hantu. Bergerak berputar putar lalu menyerong dan mendekat ke Perdamaian. Belum ada lima menit, Pendekar Goa Hantu jatuh melambai-lambai. Si Empu, yakni pemilik Pendekar Goa hantu langsung tertunduk.

Cerita belum usai, sebagian anak-anak mengejar Pendekar Goa Hantu termasuk si Empunya sendiri. Tidak hanya mereka. Anak-anak yang berasal dari arah lain pun juga ikut. Jalanan berbatu dan sebentar berbelok. Kemudian menanjak dan turun melewati lumpur. Anak-anak itu tetap melintasinya sembari kepalanya menengadah ke atas dan Pendekar Goa Hantu masih saja melayang-layang. Terkadang ke kiri, terkadang ke kanan. Mengikuti arah angin. Kecepatan yang melamban membuat Pendekar Goa Hantu mendarat tepat di atas lumpur. Tangan-tangan mulai menangkap tubuh Pendekar Goa hantu.

“Aku yang dapat.”

“Bukan. Akulah yang lebih dulu.”

“Ini punyaku.”

“Bukan punyamu. Ini punyaku.”

Begitu juga layangan lainnya,  selalu menjadi rebutan karena layangan itu  amat berharga untuk dinaikkan.
***
Sejak kejadian, itu, keberadaan Perdamaian semakin menjadi-jadi di langit. Gerakan berputar, menyerok, meluncur, menukik menghasilkan kemenangan. Satu demi satu tumbang.  Di atas bukit, anak-anak yang asyik di langit selalu melihat kejadian itu. Perlahan mereka mulai melirik-lirik satu sama lain. Saat kedatangan Si Empu layangan Perdamaian, mereka terdiam. Lamat-lamat, mereka tak mau melihat. Hanya tertuju pada layangan mereka. Bahkan ada juga yang langsung menurunkan layangannya. Takut kalau Perdamaian di langit sewaktu-waktu menyambar layangannya.

“Terbanglah tinggi. Jatuhkan lawan-lawanmu.” Kata Si Empu layangan Perdamaian saat mengulur benang. Suasana kian hening. Anak-anak di sekitar mendengar bagai ancaman.

“Tenanglah aku tak mengganggu yang ada di sini.”

Para pemain layang-layang di dekatnya menghela napas. Sementara Si Empu terus mengulur, kemudian ditaruk, mengulur, kemudian ditarik kembali. Perdamaian bergerak menukik ke bawah. Meluncur ke atas. Bergerak naik turun. Menyilang dan berhadapan dengan layangan lain yang tentu bukan berasal dari pemain di atas bukit. Sebentar-sebentar ada yang tumbang. Hingga senja, Di langit itu pemenang belum tergantikan. Siapa lagi kalau bukan Perdamaian.

Suatu hari Si Empu layangan Perdamaian tak ada di atas bukit. Ia pergi ke tempat lain. Berada di bukit sebelah timur. Ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon. Ia menerbangkan Perdamaian di atas angin. Pada langit-langit itu ia melihat banyak layangan. Lantas ia mengulurnya jauh agar tinggi. Setinggi-tingginya agar mencapai layangan yang lain. Tentu saja menyerang layangan itu.

Gulungan benang terus melepaskan uluran ke langit. Seperti biasa, gerakannya itu-itu saja. Menukik, meluncur, menyerong dan menyilang. Seperti biasa ada saja yang tumbang dan Si Empu langsung tertawa terbahak-bahak. Ia tahu bahwa lawannya adalah para pemain di atas bukit. Semuanya telah dikalahkan. Terlebih punggungnya bersayapkan layang-layang. Layang-layang itu adalah hasil buruan yang tumbang dari langit.
Tawanya kembali lepas menatap layangan Perdamaian di atas angin. Tiba-tiba tanpa di duga dua layangan mengepung di kiri dan kanan. Lantas menyilang. Si Empu tanpa sempat mengulur langsung menghadapi kenyataan bahwa Perdamaian juga ikut tumbang.

Si Empu tak tinggal diam. Ia mengejar. Menuruni bukit, melewati parit-parit. mendaki gungukan berbatu. Lalu melintasi jembatan. Tanpa terasa ia telah tiba di lingkungan pesisir, bersama anak-anak lainnya yang ikut mengejar layangan Perdamaian yang kuat dan merajai langit namun dalam keadaan tumbang tanpa pemilik.

Kepala-kepala anak itu terus menengadah ke langit memburu layangan Perdamaian. Si Empu yang terus mengejar tidak mau berpaling dari layangan miliknya.

Dalam pengejaran itu, satu kakinya menginjak lubang sehingga ia terjatuh. Ia mengerang kesakitan. Pengejaran terhenti.

Lantas, seseorang menghampirinya.

“Kamu tidak apa-apa?”

Si Empu tetap saja mengerang sakit. Matanya merah.

“Makanya, jangan lihat ke atas saja. Lihat-lihatlah ke bawah.”



Catatan:
Sontengan: saling bergesekan, berlawanan dalam sebuah permainan. Kata ini akrab jika digunakan saaat bermain layang-layang. Terutama di daerah Tarakan.

Kampung Satu Skip, 19 September 2019


R A P










1 comment: